Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembelajaran Berbasis Masalah sebagai Model dalam Proses Belajar Mengajar

Dalam dunia pendidikan terdapat berbagai macam model pembelajaran yang ditemukan oleh para ahli. Salah satunya adalah model pembelajaran berbasis masalah, ada juga mode pembelajaran kooperatif. Model-model pembelajaran ini telah diteliti dan digunakan sesuai dengan keadaan pendidik dan peserta didik di wilayah masing-masing. Tinggal mencari kecocokan saja, model pembelajaran apa yang cocok didunakan dalam pembelajaran.

Lalu bagaimana dengan model pembelajaran berbasis masalah? Berikut ini penjelasannya.

Pembelajaran Berbasis Masalah sebagai Model dalam Proses Belajar Mengajar
ilustrasi pixabay.com


Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah


Pengajaran berbasis masalah telah dikenal sejak zaman John Dewey, yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.

Menurut Dewey (dalam sudjana 2001: 19) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dengan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa bwrupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki , dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik. Pengalaman siswa yang diperoleh dari lingkungan akan menjadikan kepadanya bahan dan materi guna memperoleh pengertian serta bias dijadikan pedoman dan tujuan belajarnya.

Menurut Arends (1997), pengajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berfikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

Ciri-ciri Pengajaran Berbasis Masalah


Menurut Arends (2001: 349), berbagai pengembang pengajaran berbasis  masalah telah memberikan model pembelajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut (Krajcik, 1999; Krajcik, Blumenfled, Marx, & Soloway, 1994; Slavin, Maden, Dolan, & Wasik, 1992, 1994; Cognition & Technology Group at Vanderbilt, 1990):

1. Pengajuan pertanyaan atau masalah. Bukannya mengorganisasikan di sekitar prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa.

2. Berfokus pada keterkaitan dntar disiplin. Meskipun pembelajaran berbasis masalah berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, Matematika, Ilmu-ilmu Sosial), masalah yang telah diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.

3. Penyelidikan autentik. Pembelajaran berbaasis masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyataterhadap masalah nyata.

4. Menghasilkan produk yang memamerkannya. Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan.

5. Kolaborasi. Pembelajaran bernasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.

3. Sintaks Pengajaran Berbasis Masalah. Pengajaran berbasis masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Fase-fase pembelajaran berbasis masalah menurut Ibrahim dan Nur (2000: 13), sebagai berikut:

Tahap-1
Orientasi siswa pada masalah

Tingkah Laku Guru
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar

Tingkah Laku Guru
Guru membantu untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap-3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Tingkah Laku Guru
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendpatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Tingkah Laku Guru
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Tingkah Laku Guru
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap pendidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Pelakasanaan Pengajaran Berbasis Masalah


1. Tugas-tugas Perencanaan

a. Penetapan tujuan. Model pengajaran berbasis masalah dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan seperti keterampilan menyelidiki, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa menjadi pelajar yang mandiri.

b. Merancang situasi masalah. Situasi masalah yang baik autentik, mengandung teka-teki, dan tidak didefinisikan secara ketat, memungkinkan kerjasama, bermakna bagi siswa, dan konsisten dengan tujuan kurikulum.

c. Organisasi sumber daya dan rencana logistic. Dalam pengajaran berbasis masalah siswa dimungkinkan bekerja dengan beragam material dan peralatan, dan dalam pelaksanaannya bias dilakukan di dalam kelas, di perpustakaan, atau di laboratorium, bahkan dapat pula dilakukan di luar sekolah.

2. Tugas Interaktif

a. Orientasi siswa pada masalah. Guru menggunakan kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan misteri sehingga membangkitkan minat dan keinginan menyelesaikan masalah  yang dihadapi.

b. Mengorganisasikan siswa untuk belajar. Guru membantu siswa untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan.

c. Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok. (1). Guru membantu siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber, siswa diberi pertanyaan yang membuat mereka berfikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. (2). Guru mendorong pertukaran ide gagasan secara bebas dan penerimaan sepenuhnya gagasan-gagasan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam tahap penyelidikan dalam rangka pembelajaran berbasis masalah. (3). Puncak proyek-proyek pengajaran berdasarkan pemecahan masalah adalah penciptaan dan peragaan artefak, seperti laporan, poster, model-model fisik, dan video tape.

d. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berfikir mereka sendiri, dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan.

3. Lingkungan Belajar dan Tugas-tugas Manajemen

Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa guru perlu memiliki seperangkat aturan yang jelas agar supaya pembelajaran dapat berlangsung tertib tanpa gangguan, dapat menangani perilaku siswa yang menyimpang secara capat dan tepat, juga perlu memiliki panduan mengenai bagaimana mengelola kerja kelompok.

4. Assesmen dan Evaluasi

Teknik penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pengajaran berbasis  masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan siswa yang merupakan hasil penyelidikan mereka.

Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis Maslah


1. Keunnggulan

Sebagai suatu strategi pembelajaran, stretegi pembelajaran berbasis masalah (SPBM) memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:

a. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.

b. Pemecahan masalah (peoblem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

c. Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

d. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan meraka untuk memehami masalah dalam kehidupan nyata.

e. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.

f. Melalui pemecahan masalah (problem solving) bias memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.

g. Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.

h. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka unruk menysuaikan dengan pengetahuan baru.

i. Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka milliki dalam dunia nyata.

j. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus¬-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

2. Kelemahan

Disamping keunggulan, SPBM juga memiliki kelemahan, diantaranya:

a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.

c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajarai.

Posting Komentar untuk "Pembelajaran Berbasis Masalah sebagai Model dalam Proses Belajar Mengajar"