Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nabi Muhammad saw. sebagai Rahmatan lil alamin

Nabi Muhammad saw. sebagai Rahmatan lil alamin
Nabi Muhammad saw merupakan khataman nabiyyin yaitu nabi dan rasul penutup/terakhir, tidak ada lagi nabi da rasul yang diutus Allah setelah beliau. Rasulullah saw. diutus bukan untuk orang bangsa arab saja, tetapi untuk semua bangsa, olehnya itu Nabi Muhammad saw. sebagai Rahmatan lil alamin, yaitu anugrah bagi alam semesta.

Nabi Muhammad SAW. sebagai Penyempurna Akhlak


Kondisi masyarakat Arab tempat beliau lahir sangat memprihatinkan waktu itu. Zaman tersebut sering disebut sebagai zaman jahiliah. Masyarakat berada dalam kebodohan akhlak. Mereka hidup tanpa aturan, semua orang mengejar kesenangan tanpa mempedulikan etika dan kebenaran, kezaliman merajalela. Dalam hal akidah mereka juga berada dalam kondisi buruk. Orang-orang menyembah berhala dan melakukan persembahan-persembahan kepada berhala. Tidak ada seorangpun yang peduli untuk melakukan perbaikan. Dalam kondisi akhlak yang seperti itulah Nabi Muhammad saw. lahir.

Sejak masa kecil, sebelum Nabi Muhammad saw. menjadi Nabi, beliau sudah memikirkan kondisi masyarakatnya yang buruk. Nabi Muhammad saw. selalu berpikir dan merenung untuk mencari jalan bagi perbaikan. Petunjuk dari Allah itupun tiba, ketika Nabi Muhammad saw. menerima wahyu pertama. Sejak saat itu, Nabi Muhammad saw. mulai mengajarkan kebaikan.

Di tengah masyarakat jahiliah Nabi Muhammad saw. terus berjuang menyebarkan kebaikan. Beliau memiliki budi pekerti yang luhur meskipun hidup di tengah masyarakat jahiliah. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT. yang artinya:  Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar, berbudi pekerti yang luhur (Q.S. al-Qalam: 4)

Ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. meliputi masalah akidah hingga akhlak. Selain mengajarkan untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala, Nabi Muhammad saw. juga memperbaiki akhlak masyarakat yang saat itu berada dalam kondisi jahiliah. Perilaku zalim dan penindasan dihentikan. Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada para pengikutnya untuk selalu bersikap penyayang, melindungi kaum lemah, dan bersikap adil. Semua manusia dihargai martabatnya tanpa melihat status sosial maupun kekayaan yang dimilikinya.

Misi Nabi Muhammad saw. sebagai penyempurna akhlak disebutkan dalam hadis yang artinya: Dari Abu Huraira “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Baihaqi)

Ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. telah mengubah akhlak manusia yang semula berada dalam kondisi gelap menjadi akhlak terpuji. Sebagaimana dalam firman Allah yang artinya: "Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benarbenar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Ali-Imrān: 164)

Dengan ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. manusia memiliki kesempatan untuk menjadi makhluk yang mulia dan bermartabat. Kehidupan jahiliah ketika manusia hidup dalam kesia-siaan telah dihapuskan berkat ajaran dan teladan Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad SAW. sebagai Rahmat bagi Alam Semesta


Nabi Muhammad saw. adalah rahmat bagi seluruh alam. Ajaran yang disampaikan serta perilaku yang diteladankan dalam diri Nabi Muhammad saw. merupakan pembawa kebaikan bagi alam semesta. Hal ini berarti bukan hanya manusia, tetapi juga tumbuhan, hewan, serta semua makhluk. Allah swt. berfirman dalam Al-Quran yang artinya: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (Q.S. al-Ambiya: 107).

Bagaimana cara Nabi Muhammad saw. membawa kebaikan bagi alam semesta? Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengadakan perbaikan dan tidak berbuat kerusakan. Melalui Al-Qur’an, beliau menyebarkan kebaikan bagi alam semesta, termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan. Perhatikan ayat yang mengarah pada pelestarian alam berikut ini.

Artinya: Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan. (QS. al-Baqarah: 205)

Ayat di atas menunjukkan bahwa setiap orang dianjurkan untuk mengadakan perbaikan dan tidak menimbulkan kerusakan termasuk terhadap binatang ternak dan tanaman. Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. merupakan rahmat bagi seluruh alam, termasuk tanaman dan hewan. Nabi Muhammad saw. menjadi rahmat bagi alam semesta dengan jalan menyebarkan kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan.

1. Kedamaian

Nabi Muhammad saw. adalah pembawa kedamaian bagi alam semesta. Beliau mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat adil, bersikap baik terhadap semua orang, tidak menzalimi orang lain, diri sendiri, dan alam sekitar.

Ajaran kedamaian tersebut juga diteladankan dalam diri Nabi Muhammad saw. Beliau tak pernah berlaku kasar, selalu adil, memaafkan orang lain, serta sikap-sikap lainnya. Dalam berdakwah Nabi Muhammad saw. juga selalu menempuh jalan damai. Beliau tak pernah memaksa atau bersikap kasar. Peperangan hanya dilakukan jika benar-benar terpaksa, setelah semua jalan damai tidak dapat ditempuh. Bahkan terhadap orang-orang kafir pun, jika mereka tidak mengganggu, beliau tetap bersikap baik. Ajaran yang seperti inilah yang dapat menjadikan kehidupan di dunia menjadi lebih baik. Tidak ada kezaliman, ketidakadilan, serta penganiayaan. Semua orang hidup dengan damai.

Kedamaian juga disebarkan oleh Nabi Muhammad saw. kepada tumbuhtumbuhan maupun hewan. Beliau adalah gembala kambing yang bersikap penuh kasih sayang kepada hewan ternak maupun hewan liar, tidak menyiksa atau membunuh jika tidak diperlukan. Bahkan dalam penyembelihan hewan ternak untuk dimakan dagingnya pun beliau mengajarkan untuk menggunakan cara-cara tertentu seperti menggunakan pisau yang tajam sehingga mengurangi rasa sakit hewan tersebut, memotong dalam sekali potong atau secepatnya agar tidak sakit terlalu lama, dan sebagainya. Terhadap tumbuh-tumbuhan, beliau juga bersikap baik, tidak menebang sembarangan sehingga keseimbangan alam dapat terjaga. Peristiwa banjir dan tanah longsor akibat penggundulan hutan tidak diajarkan dan bahkan dibenci oleh Nabi Muhammad saw. Beliau mengajarkan untuk tidak membuat kerusakan di atas muka bumi.

2. Kesejahteraan

Nabi Muhammad saw. mengajarkan untuk menyantuni kaum duafa, menyisihkan sebagian harta kekayaan untuk fakir miskin, beramal dan membantu keluarga serta teman dekat. Dengan cara-cara tersebut ia membawa kesejahteraan bagi semua orang. Bagi orang-orang yang beramal, mereka tidak akan dirugikan di dunia maupun di akhirat. Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Melalui ajaran dalam Al-Qur’an, hadis, maupun teladan dalam diri Nabi Muhammad saw., dunia bergerak ke arah yang lebih sejahtera. Jika semua orang menerapkan ajaran ini, semua orang akan hidup penuh kesejahteraan. Kejahatan dan pencurian tak perlu terjadi.

3. Kemajuan

Nabi Muhammad saw. juga menyampaikan dan mengajarkan agar setiap orang menuntut ilmu, mengadakan perbaikan. Hal ini membawa kemajuan dalam semua aspek kehidupan. Ilmu kenegaraan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan keagamaan diterapkan untuk mencapai kemajuan. Caracara hidup yang terbelakang seperti kebodohan, kekafiran, dan kezaliman ditinggalkan.

Perjuangan Nabi Muhammad SAW. Bersama Para Sahabat di Mekah


Untuk menyampaikan ajaran yang dibawanya, Nabi Muhammad saw. selalu menghadapi rintangan. Di Mekah, sejak pertama kali menerima wahyu dan mengajarkannya kepada orang-orang dekatnya, hambatan mulai datang. Abu Lahab, yang merupakan paman beliau sendiri, menentang dakwah dengan keras. Penentangan Abu Lahab tidak hanya berbentuk ucapan yang keras dan kasar, tetapi juga teror dan penyiksaan fisik. Ia melempari Nabi Muhammad saw. ketika berdakwah dengan batu-batu hingga menyebabkan beliau terluka. Tetapi, hal ini tidak menghentikan tekad Nabi Muhammad saw. untuk terus berdakwah dan menyebarkan Islam.

Setelah penolakan Abu Lahab, kaum Quraisy pun mulai melancarkan teror secara bersama-sama. Mereka bersatu dan bertekad untuk menghancurkan Nabi Muhammad saw. serta para pengikutnya. Abu Jahl, salah satu orang dari kaum kafir Quraisy berniat membunuh beliau. Ketika Nabi Muhammad saw. sedang bersujud, Abu Jahl mengangkat sebuah batu dan mendekati beliau, berniat memukul kepala beliau dengan batu tersebut hingga meninggal. Tetapi, Allah melindungi Nabi Muhammad saw. sehingga Abu Jahl tidak berhasil melaksanakan niatnya, bahkan lari terbirit-birit dalam keadaan sangat ketakutan.

Penyiksaan dan kekerasan tidak hanya diterima oleh Nabi Muhammad saw. tetapi juga para sahabat yang telah masuk Islam. Mereka adalah orang-orang yang pertama masuk Islam atau disebut assabiqūnal awwalūn, mereka adalah Khadijah, Ali bin Abi Talib, Zaid bin Haritzah, dan Abu Bakar. Mereka menjadi sasaran teror orang-orang yang ingin menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw. Di antara para sahabat yang menerima siksaan-siksaan tersebut adalah Bilal, yang disiksa dengan ditindih batu yang sangat besar dan dibaringkan di atas padang pasir yang panas. Zinnirah, disiksa sehingga matanya buta. Keluarga Ammar bin Yasir, ayah dan ibunya dibawa ke padang pasir dan disiksa karena mereka masuk Islam, bahkan ibu Ammar disiksa hingga meninggal dunia.

Selain ucapan yang kasar dan keras, siksaan fisik, para sahabat juga menerima siksaan berupa embargo dari kaum kafir  Quraisy. Kaum kafir Quraisy berniat menghancurkan Nabi Muhammad saw. dan semua orang yang masuk Islam dengan berbagai cara, termasuk dengan melakukan embargo sehingga tidak dapat memperoleh air dan bahan makanan, serta membuat usaha dagang mereka bangkrut. Tetapi, mereka tetap bertahan dalam akidah Islam.

Nabi Muhammad saw. dan para sahabat selalu bertahan dalam akhlak mulia meskipun diperlakukan dengan semena-mena. Nabi Muhammad saw. mengajarkan untuk membalas kezaliman dengan kebaikan, tidak berbuat zalim meskipun kepada orang yang menganiayanya, bersikap pemaaf. Di tengah sikap zalim dan jahiliah para kafir Quraisy, Nabi Muhammad saw. dan para sahabat tetap bertahan sebagai manusia mulia, bermanfaat, dan mengembangkan sikap terpuji. Jika diibaratkan, mereka seperti intan yang tetap bersinar meskipun berada di tengah kubangan lumpur dan kotoran.

Bersama para sahabat tersebut, Nabi Muhammad saw. terus mengajarkan Islam dan bertahan dari gangguan kaum kafir Quraisy. Para sahabat selain selalu mempelajari ajaran Nabi Muhammad saw. juga berusaha menyebarkannya kepada orang-orang terdekat mereka, seperti keluarga dan sahabat.  Misalnya Abu Bakar, yang terus berdakwah sehingga banyak orang yang masuk Islam berkat dakwahnya. Orang-orang tersebut adalah Usman bin Affan, Az- Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, Thalhah, Abu Ubaidah, Amir bin Fuhairah, Sa’id bin Al Ash, dan seterusnya. Begitu pula dengan Usman, Umar, serta Ali yang dengan kemampuan yang dimilikinya selalu berjuang untuk menyebarkan Islam dan mempertahankannya dari gangguan kaum kafir Quraisy.

Hikmah

Nabi Muhammad saw. berasal dari keturunan terhormat dan kaya. Abdul Mutalib, Kakeknya adalah orang kaya dan disegani di kalangan kaum Quraisy. Tetapi, beliau bergaul dengan semua orang, baik dari kalangan para pembesar Quraisy maupun dengan kalangan orang miskin bahkan dengan budak. Beliau selalu bersikap rendah hati dan terbuka kepada siapa saja. Beliau juga selalu menghargai orang lain meskipun orang itu berasal dari kalangan  budak. Tutur katanya sopan dan hatinya sangat lembut. Sikapsikap seperti inilah yang sangat membantu dakwah beliau. Orang-orang tidak hanya merasa ingin mengetahui dan mempelajari Islam, tetapi juga tertarik kepada kepribadian beliau. Mereka tertarik kepada kedamaian yang disebarkan oleh ajaran Islam. Berada di dekat Nabi Muhammad saw. dan para sahabat membuat siapapun akan merasa damai.

Posting Komentar untuk "Nabi Muhammad saw. sebagai Rahmatan lil alamin"