Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia dari berbagai aspek

Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia dari berbagai aspek
Sungguh takjub jika kita mencermati proses islamisasi yang terjadi di Indonesia. Sebuah teori menyebutkan bahwa pada abad VII Islam telah masuk ke tanah air. Dimulai kontak dagang yang dilakukan oleh para pedagang muslim dengan masyarakat pribumi, sekaligus menyiarkan agama Islam. Pada perkembangan waktu, para pedagang Arab mulai membentuk komunitas di tanah air. Dengan hubungan komunikasi yang baik, dakwah Islam pun diterima secara luas oleh penduduk pribumi. Islam akhirnya sebagai agama yang paling banyak dianut oleh penduduk hingga sekarang. Bagaimanakah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia dari berbagai aspek? Simaklah ulasannya pada postingan ini.

Perkembangan Islam di Indonesia


1. Kedatangan Islam dan Penyebarannya

Berdasarkan sumber-sumber historis, kita dapat menemukan berbagai teori tentang masuk dan penyebaran Islam di Indonesia. Teori-teori tersebut juga sangat beragam mulai teori Gujarat, Persia, dan Arab.

a. Teori Arab

Teori ini menjelaskan bahwa masuknya Islam ke Indonesia langsung dari Mekah atau Madinah pada awal abad VII. Pendukung teori ini antara lain Hamka. Bahkan, menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, Islam masuk ke Nusantara dibawa oleh orang-orang Arab Islam generasi pertama atau para sahabat pada masa Khulafaur Rasyidin.

Dalam sumber-sumber literatur Cina juga disebutkan bahwa pada abad II Hijriah telah muncul perkampungan-perkampungan muslim Arab di pesisir pantai Sumatra. Di perkampungan tersebut orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal serta membentuk komunitas-komunitas muslim. Teori inilah yang paling kuat dan diterima oleh para sejarawan saat ini.

b. Teori Persia

Teori ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesai dari tanah Persia (Iran), sedangkan daerah yang pertama kali dijamah adalah Samudera Pasai. Salah seorang pendukung teori ini adalah Oemar Amin Hoesin.

Teori ini berdasarkan pada kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Salah satu contohnya adalah kesamaan dalam peristiwa peringatan 10 Muharam sebagai peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Untuk peringatan yang sama, di daerah Sumatra ada juga tradisi bernama tabut yang berarti keranda.

c. Teori Gujarat

Menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada abad XII dan dibawa oleh para pedagang dari wilayah-wilayah di anak Benua India seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar. Tokoh pendukung teori ini antara lain Snouck Hurgronje, Pijnappel, dan Sucipto Wiryo Suparto. Snouck Hurgronje berpendapat, Islam masuk dari daerah Deccan di India. Hal ini dibuktikan dengan adanya ajaran tasawuf yang dipraktikkan oleh umat Islam di India Selatan mirip dengan ajaran yang diterapkan masyarakat muslim di Indonesia.

Bukti-bukti yang diajukan oleh Sucipto Wiryosuparto untuk memperkuat pendapat atau dugaannya bahwa Islam di Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat antara lain sebagai berikut.

  • Ditemukan nisan Sultan Malik as-Saleh yang terbuat dari marmer sejenis dengan nisan yang ada di India pada abad XIII.
  • Relief dalam makam Sultan as-Saleh mirip dengan yang ada di kuil Cambay, India.
  • Proses islamisasi mengikuti jalur perdagangan rempah-rempah yang berpusat di India.


Dalam perkembangannya, teori Gujarat ini banyak ditentang oleh para ahli sejarah karena mengandung beberapa kelemahan.

Dalam perkembangan waktu, muncul juga teori Cina yang menjelaskan bahwa para pedagang Cina adalah yang pertama kali mengenalkan Islam ke Nusantara. Berdasarkan beberapa teori tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa agama dan kebudayaan Islam diperkirakan telah masuk di Indonesia pada abad VII Masehi, tepatnya pada masa kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang dibawa oleh para pedagang dari Arab. Selanjutnya, agama Islam mengalami perkembangan secara nyata pada abad XIII.

Dari tahapan pengenalan ataupun kedatangan Islam di tanah air meningkat ke tahapan penyebaran Islam. Dimulai persinggahan pedagang muslim menuju beberapa kepulauan di Nusantara dalam rangka kontak dagang sekaligus menyiarkan agama Islam. Selanjutnya, terbentuknya komunitas muslim di Nusantara hingga berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, khususnya di beberapa daerah perdagangan di pesisir. (Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus Af (Editor). 2006)

2. Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Islamisasi yang berlangsung di tanah air terjadi melalui jalur perdagangan laut. Oleh karena itu, daerah yang pertama kali tersentuh dakwah Islam adalah di Sumatra dan Jawa.  Di sana selanjutnya berdiri kerajaan-kerajaan Islam. Berikut ini penjelasan ringkas tentang kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia.

a. Kerajaan Perlak

Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Sumatra dan tanah air adalah Kerajaan Perlak (Peureula). Kerajaan Perlak ini berdiri pada pertengahan abad IX dengan raja pertamanya bernama Alauddin Syah. Perlak pada saat itu merupakan kota dagang penyedia lada paling terkenal. Pada akhir abad XII Kerajaan Perlak akhirnya mengalami kemunduran.

b. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada abad XIII dan terletak di daerah pantai timur Aceh. Keberadaan kerajaan ini dibuktikan dengan sumber sejarah berupa penemuan batu nisan bertuliskan Sultan Malik as-Saleh dengan angka tahun 1297 yang juga merupakan raja pertama. Menurut sumber sejarah, kerajaan ini pernah didatangi seorang utusan dari Sultan Delhi di India bernama Ibnu Batutah.

c. Kerajaan Aceh

Kerajaan Aeh berdiri pada tahun 1514. Sultan Ibrahim atau Ali Mugayat Syah adalah raja pertama kerajaan ini. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada saat itu wilayah kekuasaan Aceh sangat luas. Kerajaan A ceh juga telah menjalin hubungan dengan para pemimpin Islam di kawasan Arab sehingga dikenal dengan sebutan Serambi Mekah. Puncak hubungan tersebut terjadi pada masa kekhalifahan Usmaniyah.

d. Kerajaan Demak

Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa adalah Kerajaan Demak. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Pada saat itu ulama memegang peranan yang penting dalam pemerintahan misalnya dengan diangkatnya Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa sebagai penasihat kerajaan. Kerajaan Demak mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Trenggono. Pada tahun 1527 ketika armada Portugis datang untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa, Kerajaan Demak berhasil memukul mundur. Pada masa kekuasaan dipegang oleh Jaka Tingkir, pusat pemerintahannya dipindah dari Demak menuju Pajang.

e. Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang dipimpin oleh Jaka Tingkir yang merupakan menantu Sultan Trenggono, Raja Demak. Sebagai raja, Jaka Tingkir mendapat gelar Sultan Adiwijaya. Setelah Sultan Adiwijaya wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh Arya Pangiri. Selanjutnya, dipimpin oleh Pangeran Benowo.

f. Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram didirikan oleh Sutawijaya yang memiliki gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Masa kejayaan Kerajaan Mataram dicapai pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma yang bergelar Sultan Agung Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman Khalifatullah. Pada saat itu kekuasaan Mataram sangat luas dan seluruhnya berhasil disatukan.

g. Kerajaan Banten

Setelah Fatahillah yang juga menantu Sunan Gunung Jati berhasil menaklukkan Portugis di Sunda Kelapa, Banten dikembangkan sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat penyiaran agama. Banten juga berhasil merdeka dan melepaskan diri dari Kerajaan Demak. Kerajaan Banten ini mengalami kemajuan yang sangat penting pada masa kekuasaan Ki Ageng Tirtayasa.

h. Kerajaan Banjar

Islam pertama kali masuk ke Banjarmasin pada abad XVI. Saat itu proses islamisasinya sebagian besar dilakukan oleh Kerajaan Demak. Dalam waktu yang tidak cukup lama, bahkan Islam banyak dianut masyarakat dari suku Bugis di sungai bagian timur Kalimantan. Ulama yang sangat terkenal di kerajaan tersebut adalah Syeh Muhammad Arsyad al-Banjari.

i. Kerajaan Sukadana

Pada tahun 1550 Islam telah diperkenalkan kepada Kerajaan Sukadana di wilayah barat Pulau Kalimantan. Meskipun yang berkuasa pada saat itu belum sempat memeluk agama Islam, penerus kerajaan tersebut selanjutnya memeluk agama Islam. Bahkan, pada tahun 1600 Islam menjadi agama yang sangat populer di sepanjang pesisir pantai pulau tersebut.

j. Kerajaan-Kerajaan Lain

Selain kerajaan-kerajaan yang disebutkan di atas, masih ada kerajaan-kerajaan lain di tanah air. Di Sulawesi misalnya, Gowa dan Tallo yang sebelumnya kerajaan Hindu berubah menjadi kerajaan Islam. Kedua kerajaan ini kemudian bergabung dan pernah memiliki raja terkenal Sultan Hasanuddin (1653-1669) yang berjuluk Ayam Jantan dari Timur. Islam juga berkembang di kerajaan-kerajaan lain di wilayah Nusa Tenggara, seperti Bima, Sumbawa, Dompu, dan Tambora. Di Maluku juga berdiri banyak kerajaan seperti Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, dan Obi.

3. Tahapan Perkembangan Islam di Masyarakat

Perkembangan Islam di kepulauan Nusantara terjadi secara bertahap. Akan tetapi, tahapan perkembangannya antara satu wilayah dengan wilayah lain tidak seragam. Ada suatu wilayah yang baru berada dalam tahapan pengenalan dasar-dasar pokok ajaran agama, tetapi di daerah lain justru telah memasuki tahapan yang bersifat rasional, atau tahapan yang lebih maju.

Perkembangan Islam di Nusantara secara umum hingga akhir abad XX dapat dilihat menjadi beberapa tahapan berikut.

a. Memeluk Islam Secara Formal

Tahapan awal dimulai dengan masa pemelukan Islam secara formal. Pada tahapan ini lebih ditekankan pada pengenalan dasar-dasar Islam ataupun ketentuan tentang pelaksanaan syariat atau fikih. Tahapan ini merupakan tahap pengenalan masyarakat terhadap ajaran-ajaran Islam, yang tentu belum mereka temukan pada agama sebelumnya.

b. Pendalaman Islam

Setelah Islam semakin banyak diminati, jumlah penganutnya semakin bertambah. Agama Islam telah tersebar di beberapa wilayah. Tidak hanya di K epulauan Sumatra bagian utara, tetapi sampai Jawa, dan pulau-pulau lain. Pada akhir abad XV-XVI, proses dakwah Islam di tanah air sangat deras. Islam pada masa itu telah memasuki pelosok daerah di Nusantara, tidak sekadar di kota-kota pesisir.

Berkat meningkatnya pemahaman dan pendidikan yang diperoleh kaum muslim, ajaran Islam pada saat itu juga semakin dipahami lebih mendalam. Pemeluk agama Islam pada saat itu memeluk agamanya tidak sekadar formalitas. Pada saat itu lahir para penulis dari kalangan ulama terutama dalam pemikiran agama dan sastra.

c. Peningkatan Tradisi Intelektual

Pada abad XVII telah terjadi peningkatan dan penyempurnaan ajaran Islam. Tradisi intelektual pada saat itu juga dapat berlangsung secara mengagumkan. Lahir beberapa ulama dengan karya-karya mereka, mulai bidang fikih, usuluddin, tasawuf, tafsir, hadis, retorika, estetika, hingga astronomi. Munculnya karya-karya dari para ulama berdampak juga pada perkembangan bahasa Melayu.

Selain itu, beberapa tarekat sufi tumbuh menjadi organisasi keagamaan yang tampak corak aktivitas keduniaannya. Hal ini memberi semangat lahirnya gerakan anti-kolonial yang merata di penjuru Nusantara. Islam pada saat itu sangat penting sebagai faktor pemersatu bangsa.

d. Gerakan Pembaruan/Tajdid

Tahapan pembaruan dapat diistilahkan dengan "tajdid". Pada tahap ini gerakan-gerakan keagamaan tumbuh menjadi gerakan kebangsaan. Organisasi Sarekat Islam (SI) misalnya, menekankan pada perjuangan politik. Adapun Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), dan organisasi-organisasi lain menekankan pada bidang sosial seperti pendidikan dan dakwah. Untuk mengantisipasi terjadinya sekularisasi, pesantren telah menjadi pendidikan alternatif bagi masyarakat.

e. Lahirnya Tokoh-Tokoh Pemikir Islam

Tahapan terakhir yaitu lahirnya tokoh-tokoh pemikir Islam, yang dimulai sekitar tahun 1970-an. Para pemikir itu pada umumnya adalah para aktivis masjid kampus. Meskipun mereka memperoleh pendidikan di universitas umum, tetapi masih tetap memotivasi diri untuk mendalami ajaran-ajaran agama dan sendi-sendi peradabannya. Dari para tokoh pemikir Islam ini, lahirlah gagasan agar nilai-nilai Islam tetap mewarnai dalam kehidupan berbangsa.

Demikianlah alur perkembangan Islam mulai abad VII hingga sekarang ini yang tidak selalu berjalan lurus. Adakalanya dalam proses perkembangannya menghadapi berbagai kendala. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa islamisasi akan selalu berhadapan dengan kekuasaan, baik yang lingkupnya terbatas maupun kebijakan negara.

Contoh-Contoh Perkembangan Islam di Indonesia


Perkembangan Islam di Indonesia, jika dilihat dari ajarannya memiliki ciri tertentu dengan corak budaya lokal. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan masyarakat pada setiap daerah terdapat perbedaan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam telah ter-Indonesia-kan dengan khazanah budaya lokal. Jika menyimak pada persebarannya, awal mulanya Islam masuk ke Indonesia melalui daerah perkotaan. Sebagai contoh di Pasai, Demak, Majapahit, Cirebon, dan tempat-tempat lainnya. Dari perkotaan Islam selanjutnya menyebar ke pedesaan. Ketika para mubalig yang melakukan dakwah di wilayah perkotaan tidak memiliki kekuasaan, mereka memilih untuk keluar dan menyebar menuju desa. Dari sini, Islam yang berkembang di Indonesia kental dengan ciri pedesaan yang kurang dinamis dan cenderung mempertahankan keyakinan pada mitos-mitos tertentu. Inilah sebabnya corak Islam di Indonesia sangat kental dengan tradisi-tradisi lokal.

Sebagai agama yang telah lama hadir di Indonesia dan paling banyak dianut, Islam telah mempengaruhi khazanah budaya bangsa. Kita dapat menemukan perkembangan Islam ini dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya bidang pendidikan, seni, hukum, pemikiran, dan organisasi.

1. Ilmu Keislaman

Setelah Islam dianut oleh pejabat kerajaan, para ulama diangkat sebagai penasihat atau hakim kerajaan. Pada saat itu para ulama juga memperoleh kesempatan yang luas dalam menyebarkan Islam. Misalnya, untuk mencetak kader-kader mubalig. Sebagai referensi pengetahuan agama untuk mubalig-mubalig, para ulama menyusun buku dan kitab.

Para ulama dan karya-karyanya yang terkenal pada masa itu antara lain sebagai berikut.

  • Hamzah Fansury yang merupakan tokoh sufi pertama di Indonesia. Ulama yang berasal dari Baros, Aceh ini banyak berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, misalnya dengan karyanya yang terkenal Asrarul 'Arifin fi Bayan ila Suluk wat Tauhid.
  • Nuruddin ar-Raniry, seorang ulama yang berasal dari Aceh Barat, menulis banyak buku.
  • Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, seorang ulama fikih dari Banjarmasin, Kalimantan, adalah seorang penyusun kitab bernama Sabilul Muhtadin.
  • Syamsuddin as-Sumatrani, dengan salah satu karya besarnya adalah Mir'atul Mu'minin.
  • Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, ulama tersohor dengan salah satu karyanya kitab Izamul Zaglil Kazibin fi Tasyabuhin bis Sadiqin.


Perkembangan pengetahuan yang juga tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah didirikannya lembaga pendidikan Islam di tanah air. Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional yang mendidik para santri memahami ajaran Islam. Pesantren telah ada sejak lama di tanah air dan tetap bertahan hingga sekarang.

2. Kesenian Islam

Dalam bidang seni, kita perlu meneladani peran para wali yang mampu memasukkan nilai-nilai Islam melalui kesenian. Sebagai contoh, Sunan Kalijaga yang memperkenalkan Islam melalui seni pertunjukan wayang.

Ada banyak bidang seni yang menjadi perhatian para ulama. Dalam bidang seni sastra, ada beberapa ulama yang mampu menuliskan karya yang memiliki corak Islam, seperti hikayat, babad, dan suluk.

Adapun bidang seni arsitektur corak islami dapat dilihat pada bangunan masjid Agung Demak, menara Kudus, masjid Sunan Ampel, Kesepuhan Cirebon, dan masih ada banyak lagi. Semua bangunan tersebut juga tampak sentuhan budaya lokalnya.

Perkembangan kesenian sebagaimana dicontohkan di atas tentu tidak lepas dari kepiawaian para ulama dahulu dalam menyiarkan agama Islam melalui pendekatan-pendekatan yang mudah diterima oleh masyarakat.

3. Hukum Islam

Masuknya para ulama dalam lingkungan kerajaan sebagai penasihat raja memberi kesempatan mereka untuk memasukkan ajaran Islam, misalnya dalam bidang hukum. Oleh karena itu, hukum Islam pernah juga diberlakukan di beberapa kerajaan.

Salah satu contoh adalah di Kesultanan Banjar pernah berdiri Mahkamah Syariah. Pada masa kepemimpinan Sultan Tahmidullah II (1773-1808 M), Kesultanan Banjar menerapkan hukum Islam. Tidak terbatas pada hukum perdata, tetapi juga pada hukum pidana Islam. Untuk melaksanakan hukum tersebut dibentuklah Mahkamah Syariah yang saat itu digagas oleh ulama terkenal bernama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

4. Organisasi-Organisasi Islam

Berdirinya organisasi-organisasi Islam didasarkan pada keinginan umat Islam untuk lepas dari penjajahan. Corak pergerakan organisasi-organisasi Islam sangat beragam mulai yang bercorak keagamaan, sosial, maupun politik.

Organisasi-organisasi Islam yang memberi pengaruh terhadap perkembangan ajaran Islam di Indonesia antara lain Sarekat Dagang Indonesia yang berganti menjadi Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, al-Irsyad, dan Persis.

a. Sarekat Islam

Organisasi ini didirikan pada tanggal 10 September 1912. Sarekat Islam (SI) tumbuh dari organisasi pendahulunya yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi.

Sebenarnya, organisasi itu sudah mulai tumbuh sejak tahun 1909 di bawah pimpinan R.M. Tirtodisurjo yang beranggotakan para pedagang Islam. Organisasi ini untuk masanya sangat modern dengan jumlah anggota menyebar di beberapa kepulauan Nusantara. (Ensiklopedi Islam untuk Pelajar 5. 2001)

b. Muhammadiyah

Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam di Indonesia. Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Y ogyakarta pada tanggal 8 Zulhijah 1330 Hijriah (tanggal 18 November 1912). Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang telah mengembuskan jiwa pembaruan pemikiran Islam di Indonesia dan bergerak di berbagai bidang kehidupan umat.

c. Jong Islamieten Bond (JIB)

Jong Islamieten Bond (JIB) merupakan salah satu organisasi Islam yang anggotanya sebagian besar dari golongan elite berpendidikan Barat yang tetap berpegang teguh pada prinsip keislaman. Jong Islamieten Bond (JIB) didirikan di Jakarta pada tahun 1925 oleh para pemuda pelajar Islam. (Ensiklopedi Islam untuk Pelajar 3. 2001)

d. Nahdatul Ulama

Nahdatul Ulama (NU) secara bahasa berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 (31 Januari 1926) di Surabaya atas prakarsa K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Tujuan didirikan organisasi ini untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan ahlusunah waljamaah dan menganut mazhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali, dalam wadah negara kesatuan. (Ensiklopedi Islam untuk Pelajar 4. 2001)

e. Al-Irsyad

Organisasi al-Irsyad bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial keagamaan. Organisasi ini didirikan di Jakarta pada tahun 1914. Para pendirinya sebagian besar pedagang, pengusaha, dan ulama keturunan suku Arab. Di antaranya Ahmad Soorkati, Umar Manggus, Saleh bin Ubaid, Sayid bin Salim Masyhabi, Salim bin Umar Balfas, Abdullah Harharah, Umar bin Saleh, dan Nahdi.

f. Persatuan Islam (Persis)

Organisasi Islam di Indonesia yang mempunyai tujuan utama untuk memberlakukan hukum Islam berdasarkan Al-Qur'an dan hadis di masyarakat. Persis didirikan di Bandung pada tanggal 17 September 1923 oleh K.H. Zamzam. Organisasi ini berusaha keras untuk mengembalikan kaum muslimin pada ajaran Al-Qur'an dan hadis, menghidupkan jihad dan ijtihad, membasmi bid'ah, khurafat, takhayul, taklid, dan syirik, memperluas tablig serta dakwah Islam kepada segenap masyarakat, mendirikan pesantren dan sekolah untuk mendidik kader Islam. (Ensiklopedi Islam untuk Pelajar 5. 2001).

g. Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti)

Sebuah organisasi keagamaan yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1930 di Candung (10 km di sebelah timur Bukittinggi). Gagasan untuk membentuk wadah ini dilatarbelakangi oleh perkembangan paham keagamaan di Sumatra Barat pada aw al abad XX. Perkembangan itu digerakkan oleh kaum muda untuk mengubah tradisi, terutama gerakan tarekat.

Beberapa bidang yang telah disebutkan di atas semakin lama mengalami perkembangan. Dengan alasan ini, jelaslah bahwa ajaran-ajaran bersifat terbuka untuk menerima perubahan zaman. Hal ini tentu memudahkan umat Islam dalam menerapkan berbagai ajaran Islam dalam proses pembangunan bangsa.

Peran serta umat Islam dalam pembangunan bangsa tentu sudah tidak diragukan lagi. Semenjak zaman kolonial, umat Islam tampil sebagai penggagas lahirnya kemerdekaan bangsa. Demikian halnya setelah kolonial mampu ditumpas, bukan berarti umat Islam tinggal diam. Umat Islam tetap terus berperan dalam pembangunan, mulai masa Orde Lama, Orde Baru, bahkan Orde Reformasi sekarang ini.

5. Pembangunan Bangsa

Dalam pembangunan bangsa, umat Islam juga memegang peranan yang sangat penting. Sejak masa sebelum kemerdekaan, umat Islam paling terdepan melakukan perjuangan mengusir penjajah. Sejak zaman penjajah, mulai dari bangsa Portugis, Belanda, Jepang hingga sekutu, umat Islam berada di barisan terdepan dalam perjuangan mengusir penjajah. Bagi umat Islam, mengusir penjajah asing termasuk jihad. Banyak para pahlawan bangsa adalah dari kalangan para pemimpin Islam.

Di antara para pahlawan muslim yang melakukan perlawanan pada masa penjajahan Portugis adalah Sultan Mahmud Syah (1488-1511) saat mengusir mereka dari Bandar Malaka. Perjuangan yang sama juga dilakukan oleh Adipati Unus (1513) yang dilanjutkan oleh Sultan Trenggono (1521-1546). Meskipun perjuangan para pejuang muslim belum berhasil, Portugis tetap mendapatkan perlawanan. Pada tahun 1526 tentara Demak di bawah pimpinan Fatahillah bahkan meraih kemenangan gemilang saat mengusir penjajah Portugis di Sunda Kelapa.

Peran umat Islam juga tampak saat perjuangan melawan penjajah Belanda. Banyak pejuang muslim yang dengan gigih melakukan perlawanan terhadap penjajah. Mereka memberi komando untuk berjihad mengusir penjajah, misalnya Sultan Agung Tirtayasa, Pangeran Dipenogoro, Tuanku Imam Bonjol, Panglima Polim, Cik Di Tiro, Cut Nyak Dien, Sultan Hasanuddin, dan Pangeran Antasari.

Peran umat Islam juga terus berlanjut pada masa Orde Lama, Orde Baru, bahkan era reformasi seperti sekarang ini. Para pemimpin Islam pada masa Orde Lama telah mengupayakan penerapan syariat Islam dalam Piagam Jakarta, tetapi kemudian tetap menerima UUD 1945 demi kemaslahatan bangsa. Pada saat itu, umat Islam juga berperan penting dalam memerangi idiologi komunis. Demikian halnya pada masa Orde Baru, umat Islam juga turut mewarnai pembangunan bangsa sehingga Islam mengalami kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Pada era reformasi hingga saat ini umat Islam semakin memiliki peran yang besar dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk meningkatkan kualitasnya, seperti iman, takwa, serta penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keteladanan Perkembangan Islam di Indonesia


Berikut ini beberapa keteladanan yang dapat kita ambil dari perkembangan Islam di Indonesia.

1. Kewajiban untuk Menyampaikan Dakwah

Dalam Islam setiap individu diwajibkan untuk berdakwah. Dakwah di sini mengandung arti yang luas, tidak sekadar mengajak untuk menyembah kepada Allah semata dengan menjalankan kewajiban agamanya, tetapi mengajak untuk berbuat kebajikan. Hal inilah yang dalam tahap selanjutnya justru akan menumbuhkan simpati masyarakat sehingga mereka dengan sukarela menganut agama ini.

2. Memasukkan Ajaran Islam dalam Berbagai Aspek Kehidupan

Ajaran Islam bersikap terbuka sehingga dapat masuk dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, hukum, ekonomi, maupun sosial. Dengan berpedoman pada Al-Qur'an dan hadis, umat Islam dapat menerapkan prinsip-prisnip pada kedua sumber tersebut untuk diterapkan dalam bidang lain. Contohnya, dalam bidang hukum kita dianjurkan untuk menegakkan keadilan, selalu berbuat jujur, dan menempatkan kedudukan yang sama di depan hukum.

3. Internalisasi Nilai Islam Sesuai Nilai Budaya Lokal

Islam dianggap mampu memadukan nilai budaya lokal, regional, maupun nasional. Oleh karena itu, Islam yang berkembang di Indonesia tampil dengan corak khas Indonesia. Demikian halnya ketika Islam masuk ke beberapa daerah di tanah air, memiliki karakter yang kuat dengan masing-masing daerahnya. Misalnya, karakter Islam di Sumatra berbeda dengan yang ada di Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

4. Pemurnian Ajaran Islam Hendaknya Terus Berjalan

Dakwah islamiah kepada umat Islam tetap perlu dilakukan. Tujuannya agar mereka selalu menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan seharihari. Demikian halnya jika dalam pengamalan agama mereka terjadi kekeliruan karena pengetahuan yang terbatas atau kebiasaan yang salah, harus kita luruskan.

5. Tidak Mengidentikkan Islam dengan Kekerasan

Sebagai agama rahmatan lil 'alamin, Islam akan mengantarkan kerahmatan bagi alam semesta. Dengan demikian, dakwah islamiah harus dilakukan dengan cara yang baik, tidak dengan kekerasan. Demikian halnya sesama umat Islam seharusnya saling menjalin ukhuwah, tidak boleh merasa benar sendiri sehingga menimbulkan konflik.

Posting Komentar untuk "Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia dari berbagai aspek"