Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna Sesuai dengan Ajaran Islam

Memahami Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna Sesuai dengan Ajaran Islam
Asmaul husna berarti nama-nama yang baik yang dimiliki oleh Allah swt. Sebagai umat Islam, kita diwajibkan untuk mengetahui nama-nama Allah swt serta sifat-sifat yang dimilikinya. Olehnya itu kajian kali ini tentang Memahami Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna Sesuai dengan Tuntunan Ajaran Islam. Untuk mempermudah pembahasan terlebih dahulu kami tampilkan peta konsep pembahasan tengang memahami sifat-sifat Allah swt dalam Asmaul Husna
peta konsep memahami sifat-sifat Allah dalam asmaul husna

Sifat-Sifat Allah


Sifat-sifat Allah Swt. sebagaimana nama-Nya, banyak sekali disebutkan dalam Al-Qur’an. Manusia tidak mampu mengetahui hakikat sifat-sifat-Nya tersebut. (Ensiklopedi Islam I. 1994: halaman 125)

Sifat Allah Swt. dibedakan menjadi sifat wajib, mustahil, dan jaiz. Sifat wajib bagi Allah Swt. adalah sifat-sifat yang harus ada (wajib ada) pada Allah Swt. sebagai khaliq. Sifat wajib bagi Allah Swt. berjumlah dua puluh sifat. Sifat wajib bagi Allah Swt. dibagi menjadi beberapa kategori sebagai berikut.

1. Sifat Nafsiyah

Sifat Nafsiyah adalah sifat yang menjadi keniscayaan pada diri Tuhan. Sifat ini terdiri atas satu sifat, yaitu wujud (ada).

2. Sifat Salbiyah

Sifat Salbiyah adalah sifat Allah Swt. yang menafikan sifat sebaliknya. Sifat ini terdiri atas sifat qidam, baqa', mukhalafatu lilhawadisi, qiya muhu binafsihi, dan wahdaniyah

3. Sifat Ma'ani

Sifat ma’ani adalah sifat yang ada pada zat Tuhan yang dapat dijangkau oleh akal manusia. Sifat ma‘ani terdiri atas sifat qudrat, iradat, ‘ilmu, hayat, sama‘, basar, dan kalam.

4. Sifat Ma'nawiyah

Sifat ma‘nawiyah adalah sifat yang menjadi nisbah atas kesempurnaan atas sifat-sifat ma’ani. Sifat ma’nawiyah terdiri atas sifat qadiran, muridan, aliman, hayyan, sami’an, basiran, dan mutakalliman.

Sifat Mustahil Bagi Allah swt

Selain sifat wajib Allah Swt. memiliki sifat mustahil. Sifat mustahil merupakan sifat yang tidak mungkin ada pada Allah Swt. sebagai khaliq. Sifat mustahil Allah Swt. merupakan kebalikan sifat wajib-Nya. Sifat mustahil bagi Allah Swt. berjumlah dua puluh sifat yaitu sifat ‘adam, hudus, fana, mumasalatu lilhawadisi, qiyamuhu bigairihi, ta‘addud, ‘ajzun, karahah, jahlu, maut, summun, ‘umyun, bukmun, ‘ajizan, makruhan, jahilan, mayyitan, asam, a’ma, dan abkam

Selain memiliki sifat wajib dan mustahil Allah Swt. memiliki sifat jaiz. Jaiz berarti boleh. Sifat jaiz bagi Allah Swt. yaitu sifat yang boleh ada dan boleh pula tidak ada pada Allah Swt. Sifat jaiz bagi Allah Swt. hanya ada satu sifat yaitu berkehendak atau tidak berkehendak. Allah Swt. bebas untuk berkehendak atau tidak berkehendak. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat memaksa-Nya.

Asma'ul Husna


Asma’ul husna secara bahasa berarti nama-nama yang baik atau bagus. Asma - ’ul Allah Swt. merupakan nama-nama yang menunjukkan keagungan, keindahan, dan kemuliaan-Nya. Asma’ul husna berjumlah 99. Asma’ul husna hanya dimiliki oleh Allah dan hanya Dia yang berhak untuk menyandangnya. Tidak satu pun makhluk yang pantas menyandang asma’ul husna-Nya. Diberikan oleh siapa asma’ul husna tersebut? Asma’ul husna diberikan oleh Allah sendiri bukan diberikan oleh manusia atau makhluk-Nya yang lain. Allah Swt. berfirman yang artinya, ”Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Hasyr: 24)

Melalui asma’ul husna manusia akan dapat mengenal Allah Swt., zat Yang Maha sempurna. Hal ini karena dalam asma’ul husna-Nya tercermin keagungan, keindahan, dan kekuasaan-Nya. Agar manusia dapat mengenal dan memahami asma’ul husna , Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hambaNya agar senantiasa menyebutnya dalam berdoa. Allah Swt. berfirman yang artinya.

Dan Allah memiliki Asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-A‘ra-f: 180)

Penyebutan asma’ul husna dalam berdoa dimaksudkan agar manusia senantiasa mengingat keagungan, kekuasaan, dan keindahan-Nya. Dengan demikian, manusia diharapkan mampu meneladani asma’ul husna-Nya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, dalam ayat di atas Allah Swt. melarang hamba-Nya menyalahartikan asma’ul husna-Nya. Ada orang-orang yang menggunakan asma’ul husna untuk maksud-maksud tertentu. Misalnya, menggunakan asma’ul husna untuk memperkaya diri, memperoleh kekebalan tubuh, dan maksud-maksud lain. Allah Swt. melarang kita meniru perbuatan yang demikian. Mereka yang menyalahartikan asma’ul husna -Nya akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan di akhirat kelak. Mereka akan menerima balasan yang sesuai dengan perbuatannya.

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa orang yang mengamalkan asma’ul husnaakan masuk surga. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, ”Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barang siapa yang menghimpunnya akan masuk surga.” (H.R. Bukhari dan Muslim) Jelaslah sudah bahwa orang-orang yang menyebut asma’ul husnadengan tujuan ikhlas untuk memperoleh rida-Nya dan untuk memahami maknanya akan masuk ke surga-Nya.

Penyebutan asma’ul husnadiharapkan mampu menjadikan seseorang senantiasa teringat akan keindahan, keagungan, dan kekuasaan Allah Swt. Dengan demikian, diharapkan tindakan atau setiap tindakan dan perbuatannya sesuai dengan makna atau kandungan asma’ul husna-Nya. Senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Memahami Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna Sesuai dengan Ajaran Islam

Sepuluh Sifat Allah dalam Asma’ul husna dan Peneladanannya


Sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. ada yang tercermin dalam asma’ul husna-Nya. Di antara asma’ul husna yang mencerminkan sifat-sifat Allah Swt. sebagai berikut.

1. Al-Awwal

Al-Awwal merupakan salah satu asma’ul husnaAllah. Al-Awwal berarti Allah Maha Permulaan. Asma’ul husna al-Awwal ini mencerminkan sifatNya, yaitu qidam. Qidam berarti Allah Maha Dahulu. Adanya ciptaan tentu didahului pencipta. Tidak mungkin ada ciptaan yang tidak didahului pencipta. Tidak mungkin ada ciptaan jika tidak ada pencipta. Allah Maha awal tidak ada satu pun makhluk yang mendahului-Nya karena Dia pencipta makhluk. Allah swt. berfirman seperti berikut.

Artinya: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, danDia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-Hadid [57]: 3)

2. Al-Baqi

Al-Baqi merupakan asma’ul husna-Nya berarti Allah Swt. Maha kekal, hanya Allah Swt. yang memiliki nama al-Baqi. Hanya Dia yang kekal abadi selama-lamanya. Asmaul husna al-baqi mencerminkan sifat Allah yang berarti Allah Swt. kekal. Makhluk-Nya tidak pantas menyandang sifat baqa‘. Makhluk Nya suatu saat akan hancur binasa jika Dia menghendaki.

Manusia akan mati, binatang akan rusak, pepohonan akan hancur, semua makhluk akan binasa, dan alam semesta ini akan musnah. Hanya Allah Swt. yang kekal abadi selamanya meskipun seluruh makhluk-Nya binasa. Dia akan tetap ada meskipun semua makhluk telah musnah. Allah swt berfirman yang artinya.

Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. (Q.S. Ar-Rahman : 26–27)

Peneladanan terhadap asma’ul husna alBaqi dapat dilakukan dengan memanfaatkan umur yang dikaruniakan-Nya untuk beramal saleh dan berlomba-lomba dalam kebaikan serta menjauhi kemungkaran. Selain itu,peneladanan terhadap asma’ul husna al-Baqi juga dapat dilakukan dengan bersikap rendah hati. Tidak menyombongkan diri terhadap kekayaan, kecantikan, ketampanan, dan kedudukan sosial yang saat ini dimiliki. Hal ini karena semua itu bersifat sementara dan tidak kekal. Kekayaan dapat hilang, kecantikan dan ketampanan dapat berkurang dengan berjalannya waktu, dan kedudukan sosial suatu saat akan digantikan oleh orang lain. Jika Dia menganugerahkan kekayaan, ketampanan, kecantikan, dan kedudukan sosial yang tinggi, manfaatkan semua itu untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

3. Al-Qayyum

Al-Qayyum berarti Allah Swt. Maha Berdiri Sendiri. Asma’ul husna al-Qayyum sama dengan sifat qiyamuhu binafsihi. Allah Swt. Maha Berdiri Sendiri. Dia tidak membutuhkan saran, masukan, dan kritik dari makhluk untuk menciptakan sesuatu. Dia tidak membutuhkan bantuan makhluk untuk mengatur dan mengawasi alam beserta seluruh isinya.

Bulan dan bintang muncul pada malam hari, matahari terbit pada pagi hari dan tenggelam sore hari, kelelawar hanya keluar jika malam menjelang, dan awan berarak di langit. Semua itu dapat berjalan dengan teratur karena Allah Swt. yang mengaturnya. Untuk mengaturnya, Allah Swt. tidak membutuhkan bantuan, baik berupa pikiran atau bentuk lain dari makhluk-Nya. Bayangkan jika Allah Swt. tidak mengatur alam semesta beserta isinya, kehancuranlah yang akan kita temui.

Peneladanan terhadap asma’ul husna al-Qayyum dapat dilakukan dengan senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Silaturahmi yang telah terjalin harus dijaga kesinambungannya. Selain itu, hubungan baik juga harus dijaga dengan lingkungan sekitar. Kerusakan lingkungan mendatangkan bahaya dan bencana bagi manusia. Oleh karena itu, hubungan baik dengan lingkungan harus dijaga dengan cara melestarikannya. Kita tidak boleh membuang sampah sembarangan, membuang limbah yang dapat menimbulkan pencemaran di sungai, menangkap ikan dengan obat atau bom, dan beberapa tindakan lainnya. Semua itu harus dihindari agar terjalin hubungan baik antara manusia dengan sesama dan lingkungan sekitar.

4. Al-Muqtadir

Al-Muqtadir merupakan asma’ul husna Allah Swt. yang berarti Dia Mahakuasa. Asma’ul husna al-Muqtadir mencerminkan sifat Allah Swt., yaitu qudrat yang berarti Allah Maha kuasa. Kekuasaan Allah Swt. meliputi segala sesuatu. Kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi. Hanya Allah Swt. saja yang bersifat qudrat al-Muqtadir.

Semua makhluk berada dalam kekuasaan Allah Swt. Dia berkuasa untuk menciptakan, mengatur, dan meniadakan segala sesuatu. Tidak ada yang dapat menyamai kekuasaan-Nya. Seberapa pun besar kekuasaan manusia tidak sebanding dengan kekuasaan Allah Swt. Kekuasaan yang dimiliki manusia dibatasi oleh jarak, ruang, dan waktu sedangkan kekuasaan-Nya tidak terbatas oleh apa pun.

Kekuasaan manusia tidak sebanding dengan kekuasaan Allah Swt. Kekuasaan manusia merupakan anugerah Allah Swt. sehingga manusia tidak akan memiliki kekuasaan jika Allah tidak menghendaki-Nya. Selain itu, kekuasaan manusia terbatas. Seseorang yang menguasai daerah tertentu akan kehilangan kekuasaannya jika dia meninggal dunia. Kekuasaan manusia juga dibatasi oleh wilayah tertentu. Hanya Allah Swt. yang memiliki kekuasaan mutlak. Allah swt berfirman yang artinya.

. . . . Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. al-Baqarah: 20)

Peneladanan terhadap asma’ul husna al-Muqtadir dapat dilakukan dengan menjaga hubungan baik dengan sesama. Hal ini karena tidak ada manusia yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendirian. Manusia senantiasa membutuhkan bantuan makhluk lain. Dalam seluruh aktivitasnya manusia tidak dapat terlepas dari bantuan pihak lain. Oleh karena itu, manusia harus menjaga hubungan baik dengan pihak lain.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk meneladani asma-’ul h.usnaal-Muqtadir adalah senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan Allah Swt. Hal ini karena tidak ada sesuatu yang terjadi di alam semesta selain atas kehendak-Nya. Manusia diperintahkan untuk berusaha guna menggapai keinginan, tetapi berhasil atau tidaknya usaha tersebut tergantung pada kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki usaha tersebut berhasil, berhasil pula usaha tersebut. Sebaliknya, jika Dia tidak menghendaki, sekeras apa pun usaha manusia tidak akan menghasilkan sesuatu. Di sinilah pentingnya penerapan perilaku tawakal.

5. Al-Wahid

Al-Wahid merupakan salah satu asmaul husna yang berarti Allah Swt. Maha Esa. Sifat Allah yang sama dengan asma’ul husna al-Wahid adalah wahdaniyah. Allah Swt. tidak beranak dan tidak diperanakkan. Manusia yang beranggapan bahwa Allah Swt. lebih dari satu adalah musyrik. Dia tidak akan mengampuni dosa orang yang musyrik. Allah Swt. esa dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah swt. berfirmaan yang artinya

Katakanlah (Muhammad): ”Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (Q.S. al-Ikhlas: 1–4)

Perhatikan kembali ayat di atas. Surah al-Ikhlas ayat 1–4 menjelaskan bahwa Allah Maha Esa. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Hanya Allah Swt. tempat meminta segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. Jelaslah anggapan bahwa Tuhan memiliki anak tidak benar menurut akidah Islam.

Meneladani asmaul husna ini dapat dilakukan dengan beriman dan beribadah hanya kepada Allah Swt. Hanya Dia yang berhak dan pantas untuk disembah dan dimintai pertolongan karena Dia zat Yang Maha sempurna dan Maha kuasa. Hanya Allah Swt. yang dapat memberi pertolongan, perlindungan, dan keselamatan kepada makhluk-Nya. Salah satu cara beribadah yang diajarkan oleh Islam adalah shalat.

6. Al-Malik

Al-Malik merupakan salah satu asma’ul husna yang berarti Maharaja. Allah Swt. Maharaja yang memiliki kekuasaan tidak terbatas. Dia Maha raja semua makhluk yang meliputi langit dan bumi. Segala yang ada di langit dan bumi tunduk di bawah kehendak dan perintah-Nya. Dia Maha raja di langit dan bumi serta di dunia dan akhirat. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat menyamai sifat ini. Al-Malik merupakan cerminan sifat Allah iradat yang berarti berkehendak.

Manusia memiliki keinginan. Untuk mewujudkan keinginan tersebut manusia membutuhkan bantuan, saran, bahkan kadang dipengaruhi pihak lain. Keinginan manusia di bawah kendali kehendak Allah. Keinginan manusia terwujud jika sesuai dengan kehendak-Nya. Jika keinginan manusia bertentangan dengan kehendak-Nya, keinginan tersebut tentu tidak akan terwujud. Kehendak Allah Swt. pasti terwujud. Tidak satu pun kehendak-Nya yang tidak terwujud. Manusia tidak dapat menolak kehendak-Nya. Hewan tidak bisa menolak kehendak-Nya. Tidak satu pun makhluk yang mampu menolak atau melawan kehendak-Nya. Allah swt berfirman yang artinya.

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya, ”Jadilah”, maka terjadilah sesuatu itu. (Q.S. Yasin: 82)

Peneladanan terhadap asma’ul husna al-Malik dapat dilakukan dengan berdoa kepada Allah Swt. setelah melakukan suatu usaha. Berdoa kepada-Nya guna memohon keberhasilan usaha yang telah dilakukan. Oleh karena hanya Dia yang dapat mengaruniakan keberhasilan maupun kegagalan. Cara lain yang dapat dilakukan untuk meneladani asma’ul husna al-Malik adalah mempergunakan kekuasaan yang dikaruniakan Allah Swt. sebaik-baiknya. Kekuasaan seorang pemimpin hendaknya dimanfaatkan untuk melindungi dan mengayomi masyarakat. Selain itu, kekuasaan yang dikaruniakan Allah Swt. hendaknya dipergunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Salah satu caranya dengan mempergunakan kekuasaan yang dimiliki untuk menolak dan memberantas kemungkaran.

7. Al-‘Alim

Al-‘Alim memiliki arti Maha Mengetahui. Asma’ul husnaal ‘Alim mencerminkan sifat ‘ilmu yang berarti mengetahui. Allah Swt. mengetahui segala sesuatu meliputi langit dan bumi. Dia mengetahui peristiwa yang terjadi miliaran tahun silam. Dia juga mengetahui peristiwa yang akan terjadi pada masa akan datang. Di mana pun manusia bersembunyi, Dia pasti mengetahuinya. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuanNya.

Pengetahuan manusia sangat terbatas. Pengetahuan manusia terbatas oleh jarak dan waktu sedangkan pengetahuan Allah tidak terbatas. Dia mengetahui apa pun yang dipikirkan dan tebersit dalam hati seorang hamba. Tidak ada yang dapat disembunyikan dari-Nya. Mungkin manusia dapat menyembunyikan sesuatu dari saudara atau temannya. Akan tetapi, manusia tidak dapat menyembunyikannya dari pengetahuan Allah Swt. Firmannya dalam Al-Quran yang artinya.

. . . . padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S. al- Hujurat: 16)

Peneladanan terhadap asmaul husna al-‘Alim dapat dilakukan dengan belajar bersungguh-sungguh untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus dicari dan tidak datang dengan sendirinya. Setelah memperoleh ilmu pengetahuan hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ilmu pengetahuan yang telah Anda peroleh dapat dipergunakan untuk membangun umat dan bangsa. Selain itu, ilmu pengetahuan merupakan sarana untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

8. Al-Hayy

Salah satu asma’ul husna Allah Swt. adalah al-Hayy yang berarti Maha hidup Asma ’ul husna al-Hayy mencerminkan sifat Allah Swt. hayat yang berarti hidup. Allah Swt., zat yang mengaruniai kehidupan kepada semua makhluk pastilah zat yang hidup. Dia merupakan zat yang hidup dan bukan benda mati.

Maha hidup Allah Swt. tidak sama dengan hidup manusia atau makhluk-Nya. Manusia hidup dan akan berakhir dengan kematian. Manusia dan makhluk Allah Swt. lainnya tidak akan hidup jika tidak dikaruniai kehidupan oleh-Nya. Jika Allah menghendaki makhluk-Nya mati, makhluk itu pun akan mati. Kehidupan manusia bergantung kepada Allah Swt. Manusia tidak akan hidup jika Dia tidak mengaruniakan kehidupan kepadanya. Berkaitan dengan asma’ul husna al-Hayy Allah Swt. berfirman yang artinya.

Allah, tiada Tuhan selain Dia. Yang Maha hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur . . . . (Q.S. al-Baqarah: 255)

Peneladanan terhadap asma’ul husna al-Hayy dapat dilakukan dengan memanfaatkan hidup yang dikaruniakan Allah Swt. sebaik-baiknya. Tidak selamanya manusia hidup di dunia. Hidup di dunia hanya sementara dan akan berakhir jika Dia menghendaki. Oleh karena itu, hidup di dunia yang hanya sementara ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencari bekal kehidupan di akhirat. Caranya dengan senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Senantiasa beramal saleh dengan niat ikhlas karena Allah Swt. semata.

9. As-Sami’

As-Sami’ berarti Maha Mendengar. Asma’ul husna as-Sami’ merupakan cerminan sifat Allah Swt. sama’. Allah Swt. memiliki asma’ul husna as-Sami’ yang berarti Maha Mendengar. Dia dapat mendengar segala sesuatu. Dia dapat mendengar apa pun yang ada di dasar laut dan di dasar bumi. Bahkan, suara hati manusia yang orang lain tidak mampu mendengarnya, tidak luput dari pendengaran Allah Swt. Pendengaran Allah Swt. tidak terbatas oleh jarak, tempat, dan waktu.

Allah Swt. dapat mendengar suara seluruh makhluk-Nya. Tidak satu pun suara makhluk yang luput dari pendengaran-Nya. Dia mampu mendengar semua yang ada di seluruh penjuru langit dan bumi. Sekecil apa pun suara, Allah Swt. pasti mendengarnya. Bahkan, Allah Swt. dapat mendengar suara hati manusia. Firman Allah swt yang artinya

. . . . Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S. al-Ma’idah: 76)

Peneladanan terhadap asma’ul husna as-Sami’ dapat dilakukan dengan memanfaatkan telinga sebagai sarana pendengaran bagi manusia dengan baik dan benar. Mempergunakan telinga untuk mendengarkan hal-hal yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Selain itu, dengan senantiasa menghindari suara-suara yang dapat menjauhkan dari Allah Swt.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk meneladani adalah berhati-hati dalam berbicara dan berkata-kata. Tidak ada satu pun pembicaraan yang luput dari pendengaran-Nya. Meskipun tidak ada manusia yang mendengar pembicaraan Anda, yakinlah bahwa Allah Swt. pasti mendengar-Nya.

10. Al-Basir

Allah Swt. memiliki asma’ul husna al-Basir yang berarti Maha Melihat. Dia Maha Melihat segala sesuatu. Tidak satu pun gerak-gerik makhluk yang luput dari penglihatan Allah Swt. Sekecil dan sehalus apa pun gerakan makhluk, Allah Swt. pasti melihat. Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari pengawasan dan penglihatan Allah Swt. Hanya Dia yang memiliki penglihatan yang tak terbatas oleh apa pun. Asma’ul husna al-Basir sesuai dengan sifat Allah Swt. basar. Maha Melihat Allah Swt. dapat menembus ruang dan waktu. Hanya Allah Swt. yang memiliki penglihatan sempurna. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat menyamai dan menandingi penglihatan Allah Swt. Hanya Dia yang mampu melihat peristiwa yang telah berlalu dan yang akan datang. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat melihat tanpa izin-Nya. Sungguh, Allah Swt. memiliki penglihatan yang tidak tertandingi oleh apa dan siapa pun. Firman Allah swt. yang artinya.

. . . Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Hujurat: 18)

Peneladanan terhadap asma’ul husna al-Basir dapat dilakukan dengan senantiasa berhati-hati dalam bertindak. Tidak ada satu pun tindakan makhluk yang luput dari penglihatan-Nya. Tindakan manusia akan dicatat oleh Malaikat Rakib dan Atid serta akan diberi balasan yang sesuai di akhirat kelak. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam berbuat. Semoga postingan ini tentang Memahami Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna Sesuai dengan Ajaran Islam bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Memahami Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna Sesuai dengan Ajaran Islam"