Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berprasangka Baik (Husnuzzan) Menurut Pandangan Islam

Berprasangka Baik (Husnuzzan) Menurut Pandangan Islam
Sakit merupakan takdir yang sebenarnya masih bisa diupayakan. Artinya, orang yang menjaga diri dengan baik akan relatif bisa terjaga kesehatannya. Meski demikian, ada kalanya sakit datang sebagai takdir yang harus dijalani. Dalam keadaan seperti ini, seringkali kita melihat keluh berkepanjangan dengan sakit yang disandang. Tidak jarang pula kita melihat senyum mengembang dari si sakit. Bukan karena senang dengan sakitnya, melainkan karena rasa husnuzzan kepada Allah. Mereka yakin bahwa ada hikmah di balik semua yang ada. Olehnya itu mari sama-sama kita bahas bagaimana Berprasangka Baik (Husnuzzan) Menurut Pandangan Islam.

Pengertian Husnuzzan


Secara bahasa kata husnuzzan berasal dari bahasa Arab h'usn yang berarti baik dan az-zan yang berarti prasangka. Dari kedua kata ini husnuzzan dapat diartikan sebagai baik sangka atau berprasangka baik. Secara istilah husnuzzan memiliki maksud sikap mental dan cara pandang yang menyebabkan seseorang melihat sesuatu secara positif atau melihat dari sisi positif.

Kata husnuzzan berlawanan dengan kata suuzzan yang berarti buruk sangka atau berprasangka buruk. Maksud yang terkandung dalam sikap suuzzan pun berkebalikan dari sikap husnuzzan. Suuzzan adalah sebuah sikap mental atau cara pandang yang memandang sesuatu dari sisi negatif, jelek, dan pandangan tidak indah lainnya. Dengan keadaan seperti ini, sikap suuzzan mengantarkan pemiliknya pada sikap waswas, penuh curiga, dan tidak jarang memvonis meskipun belum jelas kebenaran atau salahnya.

Hal ini berbeda dengan sikap husnuzzan. Sikap husnuzzan memandang sesuatu dengan pandangan positif, ramah, tidak menghakimi, dan memberi sambutan hangat. Sikap ini merupakan sikap terpuji dalam ajaran Islam. Setiap muslim dianjurkan untuk mengedepankan sikap husnuzzan dalam menghadapi sesuatu. Dengan begitu, setiap muslim akan menampilkan wajah ramahnya terhadap sesuatu yang datang kepadanya. Meskipun demikian, Islam juga menekankan sikap hati-hati dalam melihat sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Sikap positif yang melandasi pandangan kita selaku seorang muslim tidak boleh mengabaikan sikap hati-hati agar tidak terjerumus pada suatu kesalahan.

Dalam Islam sikap husnuzzan terbagi menjadi tiga, yaitu husnuzzan kepada Allah swt., husnuzzan kepada diri sendiri, dan husnuzzan kepada orang lain. Husnuzzan pada ketiganya akan mengantarkan hidup kita menuju kehidupan yang indah, bermakna, dan bercahaya.

Berprasangka Baik (Husnuzzan) Menurut Pandangan Islam

Husnuzzan kepada Allah swt


Sikap husnuzzan kepada Allah swt. merupakan sikap husnuzzan terpenting yang harus tertanam di hati seorang muslim. Husnuzzan kepada Allah swt. adalah berbaik sangka kepada Allah swt. atas apa pun yang kita hadapi dan alami dalam kehidupan kita. Saat Allah swt. menetapkan sesuatu untuk kita, adakalanya kita merasa tidak cocok dengan ketetapan Allah swt. tersebut. Meskipun demikian, kita harus senantiasa mengedepankan prasangka baik kepada Allah swt. Hal ini karena kita sering tidak mengetahui hikmah yang mengiringi suatu kejadian.

Husnuzzan kepada Allah Swt. terbagi menjadi beberapa bentuk. Di antaranya husnuzzan dalam ketaatan kepada Allah Swt., husnuzzan dalam nikmat Allah Swt., dan husnuzzan dalam menghadapi ujian dari Allah Swt. serta terakhir husnuzzan dalam melihat ciptaan Allah Swt.

1. Husnuzzan dalam Ketaatan kepada Allah Swt.

Sebagai tuntunan untuk umat Islam, Allah Swt. menurunkan syariatNya. Dengan syariat Allah Swt. itulah kaum muslimin di seluruh dunia menjalani kehidupannya. Pada saat yang sama, sebagai manusia kita dibekali Allah Swt. dengan hawa nafsu, akal, dan rasa. Dengan perangkat tersebut kita melakukan analisis dan merasakan semua yang kita alami. Tidak jarang dengan keterbatasan nafsu, akal, dan rasa kita menemukan kejanggalan atau ketidaknyamanan dalam menjalankan syariat.

Sebagai contoh saat terdengar panggilan salat Subuh. Suasana masih sangatlah pagi, dingin, mengantuk, dan belum cukup tidur. Dalam keadaan semacam itu, kita bangun dan mengambil air wudu kemudian mendirikan salat. Kadang dalam hati kita bertanya, ”Apa yang diinginkan Allah Swt. dari kita dengan salat sepagi ini?”

Dalam menjalankan hukum waris mungkin kita juga merasakan ”kejanggalan”. Pada saat emansipasi wanita telah berkembang seperti sekarang ini, hukum waris Islam menuntunkan bahwa bagian seorang anak laki-laki dua kali bagian dari anak perempuan. Di mana letak keadilan Tuhan? Bukankah lebih adil jika warisan untuk anak laki-laki sama dengan bagian untuk anak perempuan?

Bidang lain yang tidak kalah sering menjadi sasaran pertanyaan dalam hati kita adalah hukum pidana Islam. Dalam pidana Islam atau yang dikenal dengan istilah jinayat, Allah Swt. mensyariatkan hukum qisas., hukum potong tangan, hukum cambuk, dan sebagainya. Pada era modern ini hukuman seperti itu tampak sebagai hukuman orang-orang Barbar yang tidak mengenal hak asasi manusia. Masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin terlintas dalam hati kita.

Husnuzzan dalam ketaatan kepada Allah Swt. merupakan sikap baik sangka kepada Allah Swt. terhadap apa pun yang Dia tetapkan untuk kita. Kita mungkin merasa sesuatu yang ditetapkan Allah Swt. sebagai tidak tepat, tidak baik menurut ukuran pikiran dan perasaan kita. Akan tetapi, kita harus yakin bahwa Allah Swt. lebih mengetahui karakter manusia ciptaan-Nya bahkan daripada kita sendiri. Pandangan dan aturan Allah Swt. dibuat dengan kebenaran hakiki dengan kacamata ketuhanan. Pandangan dan perasaan kita sangat dipengaruhi oleh keadaan sekitar kita. Pikiran kita sangatlah mudah dimanipulasi oleh informasi yang kita terima dan hanya dapat menjangkau sebatas yang kita ketahui.

Husnuzzan dalam ketaatan kepada Allah Swt. harus berada di depan perasaan dan pikiran kita. Artinya, meskipun hati kita belum bisa merasakan kebenaran aturan Allah Swt. dan pikiran kita melihat ada hal lain yang lebih baik menurut pendapat kita, sebagai muslim tidak ada sikap yang akan kita ambil selain sami’na- wa at.a’na-, kami dengar perintahMu ya Allah dan kami taat. Apa pun yang diturunkan Allah Swt. kepada kita pasti aturan terbaik untuk kita. Pasti ada hikmah besar di balik semua aturan yang Dia turunkan untuk kita meskipun keterbatasan pikiran dan perasaan kita belum bisa melihatnya.

2. Husnuzzan dalam Nikmat Allah Swt.

Allah Swt. memberikan nikmat-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Nikmat harta, kesehatan, kesempatan, dan masih banyak lagi nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Allah Swt. memberikan nikmat kepada kita tentu dengan maksud dan tujuan tertentu. Husnuzzan kepada Allah Swt. atas nikmat yang telah Dia berikan dapat kita lakukan dengan memperbanyak syukur dan merenungkan untuk apa Allah Swt. memberikan nikmat itu kepada kita. Dengan demikian, kita mengetahui cara memperlakukan nikmat tersebut.

3. Husnuzzan dalam Menghadapi Ujian dari Allah Swt.

Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita dihadapkan dengan keadaan yang tidak menyenangkan. Misalnya, kemiskinan, kesulitan hidup, kegagalan, atau kehilangan. Saat merasakan ujian kehidupan tersebut jiwa kita tergoda untuk bereaksi negatif dengan kemarahan, kegalauan, dan kesedihan. Semua reaksi negatif tersebut sebagian merupakan reaksi alami sebagai manusia. Akan tetapi, apabila berlarutlarut, kesedihan atau kemarahan terhadap keadaan menyebabkan kita menghujat Allah Swt. Kita mempersalahkan Allah Swt. atas keadaan yang terjadi pada diri kita.

Dalam keadaan tidak menyenangkan kita harus semakin mempertebal rasa husnuzzan kepada Allah Swt. Apa pun yang kita terima dan alami dalam hidup pasti memiliki hikmah yang besar untuk masa depan kita. Adakalanya kita merasa tidak nyaman dengan suatu keadaan padahal menurut ilmu Allah Swt. sebenarnya baik untuk kita. Oleh karena itu, saat suatu ujian datang dalam hidup kita, bersabarlah dan berbaik sangkalah kepada Allah Swt. Dalam hal ini Nabi Ayyub a.s. telah memberikan contoh terbaiknya. Dengan bersabar dan berbaik sangka Allah Swt. akan memberikan kebaikan kepada kita di masa depan. Hal ini dalam sebuah hadis qudsi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Allah berfirman sebagai berikut.

Artinya: "Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan mendapatkankeburukan." (H.R. T.abrani dan Ibnu Hibban)

4. Husnuzzan dalam Melihat Ciptaan Allah Swt.

Allah Swt. menciptakan alam seisinya. Bumi beserta seluruh jenis makhluk yang mengisinya adalah ciptaan Allah Swt. Di alam ini kita dapat menemukan bermiliar-miliar jenis benda hingga makhluk hidup dengan segala bentuk dan rupanya.

Saat menemukan suatu bentuk makhluk yang aneh kita merasa takjub kepadanya. Pada saat yang berbeda kita menemukan suatu binatang yang menjijikkan, mengganggu, berbahaya, atau menakutkan. Misalnya sekumpulan lalat atau ular. Ketika kita melihat makhluk-makhluk yang menurut kita membahayakan, dalam hati mungkin kita bertanya untuk apa Allah Swt. menciptakan makhluk seperti itu. Kita memandang rendah atau bahkan membenci makhluk tersebut. Untuk apa Allah Swt. menciptakan seekor lalat? Bukankah lalat hanya akan membawa penyakit?

Husnuzzan kepada Allah Swt. artinya bersikap baik sangka kepada Allah Swt. atas apa pun ciptaan-Nya. Setiap makhluk yang diciptakan Allah Swt. pasti memiliki maksud dan tujuan yang bermanfaat bagi kehidupan di bumi ini. Husnuzzan kepada Allah Swt. meyakini bahwa tidak ada satu pun yang sia-sia dalam ciptaan Allah Swt. Dengan sikap ini kita akan dapat lebih memerhatikan keadaan lingkungan dengan penuh penghormatan kepada penciptanya.

Inilah sikap husnuzzan kepada Allah Swt. Sikap ini harus menjadi tindakan nyata dalam kehidupan seorang muslim. Dengan husnuzzan kita yakini kebenaran Allah Swt. Dengan husnuzzan kepada Allah Swt. kita optimis melihat hidup dan menghadapi segala kesulitannya. Dengan husnuzzan pula kita mengharap kebaikan dari Allah Swt. yang seperti janji-Nya akan menganugerahkan kebaikan bagi siapa pun yang berbaik sangka kepada-Nya.

Salah satu ayat yang menunjukkan dasar sikap husnuzzan kepada Allah Swt. adalah Surah A-li ‘Imra-n ayat 190–191 yang artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang berzikir kepada Allah pada saat berdiri, duduk, atau berbaring dan memikirkan apa yang ada dalam penciptaan langit dan bumi itu. (hingga mereka berkata) Ya Rabbku, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau dan jagalah kami dari api neraka.

Pada ayat di atas, Allah menyatakan bahwa penciptaan langit dan bergantinya siang dan malam merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Dengan ayat ini kita diajak oleh Allah Swt. untuk menjadi pribadi yang husnuzzan kepada Allah dengan mengucapkan subh.a-nalla-h. Kunci dalam memahami ayat ini adalah hubungan antara kehidupan seharihari yang disebut Allah Swt. sebagai penciptaan langit dan bumi serta bergantinya siang dan malam dengan kesadaran akan keindahan Allah Swt. di balik penciptaan itu.

Berprasangka Baik (Husnuzzan) Menurut Pandangan Islam

Husnuzzan kepada Diri Sendiri


Kita adalah satu pribadi unik yang oleh Allah Swt. diberikan kesempatan untuk berkarya. Allah Swt. telah memberikan potensi yang luar biasa kepada setiap manusia termasuk kita. Akan tetapi, adakalanya kita tidak menyadari bahkan meremehkan potensi yang diberikan Allah Swt. kepada kita. Husnuzzan kepada diri sendiri artinya berbaik sangka kepada diri sendiri. Kita berbaik sangka bahwa kita dapat mencapai tingkat yang lebih baik, lebih tinggi, lebih sukses, lebih beriman, dan seterusnya.

Sikap baik sangka kepada diri sendiri merupakan suatu keharusan apabila ingin mencapai prestasi terbesar kita dalam bidang apa pun. Berhusnuzzan kepada diri sendiri menjadi jalan dan dasar untuk membuka kesempatan kita berkembang. Oleh karena itu, berhusnuzzan kepada diri sendiri dapat kita lakukan dengan beberapa hal berikut ini.

1. Percaya pada Kemampuan Diri Sendiri

Percaya merupakan sikap batin seseorang. Rasa percaya mengantarkan kita pada sikap positif dan optimis terhadap apa pun yang kita percayai. Demikian juga percaya pada diri sendiri. Rasa percaya pada diri sendiri merupakan salah satu sisi sikap husnuzzan kepada diri sendiri yang menjadi dasar pengembangan diri. Apa pun dan bagaimana pun buruk keadaan seseorang apabila rasa percaya diri telah memenuhi hati, maka dia akan bisa berkembang hingga di luar bayangannya. Sebaliknya, apabila seseorang telah terjangkit penyakit tidak percaya diri, sebaik apa pun keadaannya, sebanyak apa pun dukungan untuknya, dia tidak akan berkembang sesuai harapan.

Sikap percaya diri akan menumbuhkan sikap optimis dalam jiwa. Dengan adanya sikap optimis ini, masa depan yang terbentang luas bukan lagi terlihat sebagai ancaman melainkan kesempatan untuk berbuat dan berkarya. Sikap percaya diri dan optimis menyebabkan seseorang berani bermimpi dan memiliki keinginan serta cita-cita. Keyakinan yang tertanam kuat dalam diri seseorang mendorongnya mampu melewati hambatan dan tantangan yang ada di hadapannya. Dengan sikap ini kehidupan akan berkembang menuju arah yang lebih baik. Tentu saja dengan caracara yang tertuntun oleh wahyu sehingga selalu dalam koridor ajaran Allah Swt. dan rasul-Nya.

2. Tidak Membatasi Kemampuan Diri untuk Berkembang

Kemampuan manusia memang ada batasnya. Kemampuan manusia tidaklah sama dengan kemampuan Allah Swt. yang tidak terbatas. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi alasan untuk membatasi kemampuan diri. Kemampuan kita sebagai manusia memang terbatas, tetapi kita juga tidak mengetahui batas kemampuan itu. Apakah saat kita tidak bisa melakukan suatu hal berarti kita telah sampai pada batas kemampuan? Apakah saat kita gagal meraih sesuatu berarti kemampuan kita memang hanya sebatas itu atau kita perlu belajar dan berusaha lebih keras lagi?

Kemampuan, kesuksesan, dan kegagalan sebenarnya beberapa hal yang berbeda. Adakalanya kita mampu tetapi tidak berhasil. Adakalanya juga kita sukses, tetapi tidak tahu hal itu bisa terjadi. Dengan kenyataan ini, kesuksesan dan kegagalan sebenarnya tidak semata ditentukan oleh kemampuan kita. Artinya, ada faktor lain yang memengaruhi kesuksesan atau kegagalan kita. Meskipun demikian, semakin tinggi tingkat kemampuan kita semakin besar pula kemungkinan sukses dapat teraih.

Pelajaran yang dapat diambil dari hal ini adalah dalam berusaha kita harus selalu menampilkan kemampuan terbaik kita. Tidak membatasi kemampuan diri merupakan sikap husnuzzan kepada diri sendiri. Kita percaya bahwa kita dapat menjadi lebih baik. Satu hal yang juga perlu kita sadari bahwa meningkatkan kemampuan tidak dapat dilakukan seketika.  Meningkatkan kemampuan harus kita lakukan dengan caracara sesuai aturan Allah Swt.

Cara yang pasti adalah dengan tekun dan gigih berlatih mengembangkan kemampuan yang telah kita miliki. Kemampuan yang telah kita dapatkan bukanlah kemampuan tertinggi yang dapat kita capai. Dengan tekun belajar dan berlatih, kemampuan baru akan kita temukan dan kemampuan lama akan berkembang semakin baik. Sebagaimana kata bijak practise makes perfect, berlatih menyebabkan keahlian kita semakin sempurna.

Selain gigih mengembangkan diri, sikap husnuzzan kepada diri sendiri dapat kita tunjukkan dengan sadar diri. Sebagai manusia yang memiliki keimanan kepada Allah Swt. kita harus sadar bahwa segala kemampuan adalah milik Allah Swt. Oleh karena itu, saat kita merasa telah lelah berusaha hingga merasa sampai di batas kemampuan, yakinlah pada Zat yang memiliki segala kemampuan. Dialah Allah Swt. yang akan senantiasa membantu saat kita mau menengadah tangan meminta bantuan dan yakin bahwa ia akan membantu kita. Pun demikian saat kita mencapai kemampuan yang kita inginkan. Sikap husnuzzan mencegah kita dari sikap sombong karena sadar bahwa kemampuan kita hakikatnya karena Allah Swt. dan milik Allah Swt.

Berani Mencoba Hal-Hal Baru

Salah satu bentuk husnuzzan kepada diri sendiri adalah berani mencoba hal-hal baru. Mencoba hal baru tidaklah mudah. Rasa percaya diri yang kuat sangat diperlukan saat kita hendak mencoba hal-hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Memberikan kesempatan kepada diri kita untuk mencoba hal baru berarti kita telah memiliki cukup keyakinan untuk mengizinkan potensi diri kita berkembang. Pada saat yang sama kita mengakui bahwa kemampuan kita sebenarnya masih dapat diperluas dan diperkuat lagi.

Mencoba hal-hal baru dapat kita lakukan sebagai cara untuk memperluas kemampuan maupun memperdalam kemampuan. Memperluas kemampuan artinya menambah kemampuan baru yang belum kita miliki sebelumnya. Memperdalam kemampuan memberi kesempatan kepada diri kita mempertinggi keahlian yang telah kita miliki sebelumnya. Kedua hal ini menuntut pikiran terbuka untuk menemukan inovasi-inovasi baru. Oleh karena itu, kreativitas dan sikap inisiatif sangat diperlukan untuk memperlancar pencapaian hal-hal baru itu.

Hal-hal baru yang ingin dicoba harus dipilih dengan selektif. Artinya, tidak sembarang hal baru kita coba. Hal-hal yang potensial membawa kerusakan kepada diri kita maupun lingkungan tidaklah layak untuk dicoba meskipun sangat menggoda. Dengan demikian, kita tidak salah dalam mengembangkan diri.

Sebagai kesimpulan, husnuzzan kepada diri sendiri merupakan hal yang perlu dikembangkan dalam jiwa dan pikiran kita. Saat sikap husnuzzan ini tidak ada, sikap rendah diri, tidak kukuh, dan lemah akan segera menyerang jiwa kita. Hal seperti itu tidak baik. Saat jiwa kita lemah ada baiknya kita mengingat kembali pesan Allah Swt. dalam Surah Yusuf ayat 87 dan Surah ar-Ra’d ayat 11 berikut ini.

يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَاْيۡ‍َٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ 

Terjemahannya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (Q.S. Yusuf: 87)

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ 

Terjemahannya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Q.S. ar-Ra’d: 11)

Berprestasi merupakan kesempatan bagi setiap orang. Disebut kesempatan karena memang setiap orang memiliki kemungkinan dan potensi untuk berprestasi dan sukses. Masalahnya adalah tidak setiap orang mengenal dirinya dengan baik. Tidak semua orang mengenal potensi besar yang terpendam dalam dirinya. Mereka merasa telah berbuat yang terbaik yang dapat mereka lakukan padahal sebenarnya mereka bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih baik lagi. Hal ini diperparah lagi dengan rasa tidak percaya diri yang menghinggapi hanya karena suatu sebab yang bisa diabaikan.

Husnuzzan kepada Sesama Manusia


Husnuzzan kepada sesama merupakan tindakan terpuji. Sikap ini membawa kita pada pikiran positif kepada sesama. Dengan adanya pikiran positif itu, kita dapat memandang orang lain dengan ramah tanpa syak wasangka yang tidak perlu. Sikap saling mencurigai akan hilang dengan sendirinya. Apabila hubungan antar sesama dilandasi dengan baik sangka tanpa kecurigaan yang tidak perlu maka kehidupan akan berjalan dengan indah. Persahabatan akan teruntai dengan sikap kasih sayang dan ukhuwah islamiah yang kuat.

Husnuzzan kepada sesama harus kita kedepankan. Meskipun demikian, sikap husnuzzan juga tidak boleh menghilangkan sikap hati-hati terhadap sikap dan tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Berhusnuzzan kepada orang lain tidak berarti mengikuti apa pun keinginan dan kata-kata yang mereka sampaikan. Oleh karena itu, saat kita mendapatkan informasi tentang
tersebut.

Tabayyun saat mendapatkan informasi merupakan tindakan bijaksana agar kita tidak tertipu dan berbuat kesalahan dengan ketidaktahuan kita. Dengan melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum bertindak, kita dapat mengetahui kebenaran informasi yang kita peroleh. Selanjutnya, kita dapat menentukan tindakan yang tepat dengan informasi yang benar tersebut.

Hal ini telah diperingatkan Allah Swt. dalam salah satu ayat-Nya yaitu Surah al-Hujurat ayat 6 yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu dengan membawa suatu berita maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan atau kecerobohan yang akan kamu sesali perbuatanmu itu.

Kebalikan husnuzzan adalah suuzzan kepada sesama. Sikap berprasangka buruk ini akan menghancurkan diri pelakunya. Apabila sikap suuzzan ini berkembang dalam hubungan antarsesama maka akibatnya akan lebih parah. Terlebih bila ditimpali dengan rasa dengki dan sombong diri. Kedua sikap itu akan menyuburkan suuzzan karena tidak lagi memandang sesuatu secara objektif. Sebaik apa pun seseorang atau sesuatu jika dilihat dengan kacamata rasa dengki dan sombong yang tidak ingin merasa kalah maka akan terlihat jelek dan penuh cacat. Jangankan ada salah, tidak ada salah pun dapat dicaricari kesalahan kemudian disebarluaskan. Saat keadaan ini terjadi hubungan antarsesama pasti akan rusak.

Suuzzan juga menyebabkan kerusakan dalam hubungan yang lebih luas, yaitu hubungan dalam masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari kita dengan mudah menemukan puluhan bahkan ratusan kasus kerusuhan yang terjadi karena adanya informasi yang tidak bertanggung jawab. Provokasi beredar dalam masyarakat menyebabkan masyarakat resah. Sedikit saja pemantik memetikkan api kemarahan, kerusuhan massal tidak terhindarkan.

Untuk menghindari hal-hal buruk akibat sikap suuzzan inilah sikap husnuzzan perlu dibudayakan dalam diri kita dan selanjutnya pada orangorang di sekitar kita. Semoga postingan ini tentang Berprasangka Baik (Husnuzzan) Menurut Pandangan Islam bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Berprasangka Baik (Husnuzzan) Menurut Pandangan Islam"