Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembelajaran Bermakna dan Pembelajan Tuntas

Pembelajaran Bermakna dan Pembelajan Tuntas

Istilah pembelajaran telah mereduksi peran guru sebagai subyek dan peserta didik sebagai obyek kepada menjadikan peserta didik sebagai subyek. Istilah pembelajaran adalah sebuah revolusi cara mengajar guru dengan menjadikan peserta didik sebagai bejana yang tak berisi dan siap disi guru kepada bagaimana guru memfasilitasi peserta didik agar mau belajar. Dengan demikian, peserta didik tidak lagi diam akan tetapi menjadi dinamis. Merekalah penentu seluruh proses pembelajaran. Untuk mencapai maksud tersebut, penguasaan model-model pembelajaran menjadi hal yang amat penting.

Pembelajaran Bermakna

Beberapa psikolog berpandangan bahwa bahan yang bermakna (meanigful) tidak dapat disajikan akan tetapi harus diperoleh melalui proses pemecahan masalah dan pengalaman kerja yang bersifat mandiri. Ausubel seorang psikolog kenamaan (dalam Joyce & Weil, (1986:73) menentang pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa "bermakna bergantung sepenuhnya pada bahan dan anak /peserta didik  dan bukan pada metode penyampaian". Bila peserta didik mulai belajar pada saat yang tepat, dan bahan yang diajarkan benar-benar dapat dipahami akan terjadi proses belajar yang bermakna. Kunci menuju belajar bermakna tergantung sejauhmana hubungan antara bahan baru dengan ide atau pengetahuan yang telah ada dalam pikiran peserta didik.

Dalam konteks itu pendidik dituntut kemampuan mengaitkan dan menyesuaikan apa yang telah diketahui peserta didik dengan bahan yang akan diajarkan. Proses pembelajaran bermakna menuntut guru mempersiapkan kondisi peserta didik untuk memahami dan mengaitkan bahan yang  disajikan dengan apa yang telah ada dalam pikiranya dan bukan menghafal bahan secara verbal.

Menurut Ausubel, terdapat kesamaan antara cara menata atau mengorganisasi mata pelajaran dengan cara manusia manata pengetahuan dalam pikirannya. Ausubel menambahkan bahwa bidang ilmu atau disiplin memiliki susunan (struktur) konsep atau teori yang disusun secara hierarkis dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks. Bagian paling atas adalah konsep-konsep yang paling abstrak dan sebaliknya paling bawah adalah yang paling konkrit dan sempit.

Berdasarkan pandangan Bruner (1960), Ausubel juga percaya bahwa struktur atau susunan konsep suatu bidang ilmu/pengetahuan dapat dipilih dan diajarkan kepada peserta didik melalui proses pengolahan informasi antara lain: peserta didik memahami, menganalisis, dan menerapkan konsep untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Misalnya, peserta didik menggunakan konsep ekonomi untuk menganalisis kenaikan harga BBM, kenaikan harga di pasaran.

Dalam rangka proses pengolahan informasi, Ausubel (Joyce & Weil, 1986:75) memaparkan bahwa pikiran (mind) merupakan suatu sistem pengolahan dan pengumpulan informasi. Hal ini mirip dengan struktur konsep bidang keilmuan. Suatu ide atau konsep baru dapat dipelajari dan disimpan dalam pikiran dengan baik bilamana dikaitkan dengan konsep yang telah ada dalam pikiran seseorang.

Pembelajaran Tuntas

Istilah belajar tuntas diterjemahkan dari perkataan bahasa Inggeris Mastery Learning. Istilah ini digunakan untuk menunjukan suatu konsep dan proses pembelajaran yang menitik beratkan pada penguasaan penuh. Mastery Learning muncul sebagai reaksi terhadap konsep belajar yang berdasarkan prinsip kurva normal. Prinsip kurva normal beranggapan bahwa setiap individu berbeda kapasitasnya.  Maka, individu akan menunjukkan penguasaan yang bervariasi. Secara keseluruhan penguasaan peserta didik akan tersebar mulai dari yang paling jelek, rata-rata hingga yang paling bagus.

Menurut prinsip kurva normal, setiap peserta didik akan mengelompok pada tiga kelompok besar di atas. Penguasaan peserta didik terhadap suatu materi atau bahan ajar akan bervariasi dan mengelompok pada tiga kategori itu. Kebanyakan dari peserta didik akan berada di sekitar rata-rata dan sebagian kecil pada kelompok rendah dan tinggi.Prinsip kurva normal akhirnya diterima sebagai sebuah gelaja alami.

Para pakar seperti Block (1980) melihat potensi kecerdasan peserta didik berbeda, namun mereka dapat mencapai taraf penguasaan penuh. Menurut Block, bahwa setiap peserta didik mempunyai peluang untuk mencapai taraf perkembangan maksimal. Block menulis: any one can learn exellently (orang dapat mencapai taraf terbaik). Dengan demikian,  hal yang membedakan peserta didik yang satu dari yang lain adalah waktu. Artinya sebagian peserta didik dapat menguasai sesuatu dengan penuh dalam waktu singkat dan ada yang membutuhkan waktu yang sedikit lama. Maka, penguasaan tuntas akan dicapai semua peserta didik bilamana mereka diberi waktu yang cukup.

Skenario pembelajaran tuntas adalah sebagai berikut:

1) Tujuan pembelajaran yang disusun secara spesifik atau khusus dan pemilihan bahan belajar yang relevan;

2) Pendekatan pembelajaran yang memungkinkan setiap peserta didik dapat belajar;

3) Penggunaan umpan balik dengan cara memberikan tes-tes formatif untuk setiap unit bahan yang utuh;

4) Pemberian bantuan bagi peserta didik yang lamban belajar dengan remedeal dan penyediaan sarana dan kesempatabn belajar bagi peserta didik yang lebih cepat dalam belajar dengan menyediakan program pengayaan;

5) Penetapan standar penguasaan (level of mastery) kepada peserta didik sebelum melanjutkan ke proses belajar unit berikutnya dengan sebelumnya menetapkan standar kelulusan (passing grade) misalnya tingkat penguasaan 70%.

6) Penetapan prestasi belajar yang didasarkan pada Criterium (patokan) dan bukan pada norma kelompok. Dengan demikian, Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan bukan penilaian Acuan Norma (PAN). (Patris Rahabav: 2015)

Posting Komentar untuk "Pembelajaran Bermakna dan Pembelajan Tuntas"