Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membaca Pemikiran Pendidikan Paulo Freire


Membaca pemikiran pendidikan paulo freire adalah membaca pemikiran pendidikan yang membebaskan. Membebaskan pemikaran peserta didik dari kediktatoran seorang guru sebagai superioritas di dalam kelas.

A. Pendahuluan

Bukan zamannya lagi untuk mengatakan bahwa seorang pendidikan itu mengetahui segalanya atau sebagai sumber pengetahuan bagi siswa. Perkembangan ilmu pengetahuan memberikan kebesan kepada pendidik maupun siswa untuk dapat menggali pengetahuan bersama sebagai sikap saling memberi dan saling menerima. Boleh dikatakan bahwa guru di kelas hanya sebagai fasilitator untuk memfasilitasi siswa dalam dialog ilmu pengetahuan.

Paulo Freire dalam bukunya Politik Pendidikan (Pustaka Belajar; 2007) menggambarkan sistem pendidikan sebagai “bank” dimana pelajar diberi ilmu pengetahuan agar kelak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda. Sistem pendidikan seperti yang digambarkan oleh Paulo Freire menjadikan siswa sebagai objek eksploitasi dalam dunia pendidikan. Eksploitasi pendidikan seperti ini nantinya tidak akan membebaskan pemikiran siswa dari belenggu “kebodohan”. Selain itu pendidikan akan terus bernilai negatif dan tidak menghasilkan siswa yang kreatif dan mandiri karena semua yang dilakukan oleh siswa atas dasar keinginan dari guru, bukan dari kebebasan berfikir siswa. Sikap antagonisme pendidikan “gaya bank” itu freire menyusun dalam draft sebagai berikut :
  • Guru mengajar, murid mendengar
  • Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
  • Guru berpikir, murid dipikirkan
  • Guru bicara, murid mendengarkan
  • Guru mengatur, murid diatur
  • Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti
  • Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan guru
  • Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diriGuru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya dan mempertimbangkannya dengan kebebasan murid-murid.
  • Guru adalah subjek proses belajar, murid objeknya.
Dalam draft yang disusun oleh freire ini menjadikan guru sebagai pusat dalam proses pembelajaran, sedangkan murid bagaikan benda mati yang pasif dan tak mempunyai daya apa. Padahal strategi pendidikan sudah saatnya untuk melibatkan murid dalam menentukan proses belajar mengajar. Penentu dalam pembelajaran bukan lagi satu-satunya milik guru, siswa juga dilibatkan untuk menetukan arah dan kebjikan dialektika pembelajaran.

Kebebasan seperti ini bukan mengandung interpertasi bahwa siswa diberikan kebebasan sepenuhnya, akan tetapi kebebasan yang diberikan perlu dikontrol agar tidak keluar dari etika dan norma yang telah diatur dalam dunia pendidikan. Etika dan norma atau nilai tidak boleh terbebas dari ilmu pengetahuan, seperti yang terjadi di dunia barat saat ini dimana ilmu pengetahuan telah bebas nilai. Akan tetapi ilmu pengetahuan dan nilai berjalan bersama agar pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh murid tidak keluar dari koridor kodrati.

B. Sikap Pendidik dalam Mengajar

Ada berbagai macam bentuk sikap guru dalam mengajar di sekolah. Sikap tersebut dijadikan sebagai strategi dalam membentuk intelegensi siswa. Dari berbagai macam bentuk sikap yang ditampilkan guru maka, di sini kami hanya membahas beberapa saja yang menurut kami penting untuk dikaji bersama, sikap-sikap tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Pendidik Sebagai Fasilitator

Hakikat pendidikan yang ditawarkan oleh Freire adalah manusia yang terbebaskan. Manusia yang terbebaskan adalah manusia yang terlepas dari segala bentuk hegemoni yang menghegemoni dirinya. Hakikat pendidikan seperti inilah yang menjadi acuan guru untuk membebaskan murid dalam berfikir, membebaskan murid dalam memberikan analisa ilmu pengetahuan, membebaskan murid dalam menggali sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan dan membebaskan murid dalam hal lainnya selama itu berkaitan dengan pengembangan pengetahuan. Pola pikir murid tidak perlu ditindas dengan memberikan ilmu pengetahuan yang sebetulnya tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan, karena sikap pendidik seperti ini akan memberikan suatu asumsi kepada masyarakat bahwa dunia pendidikan hanyalah dunia pertarungan konsep, pertarungan ide, dan pertarungan nilai kuasa.

Melihat hakikat pendidikan yang ditawarkan oleh Freire maka, guru yang profesional sudah saatnya untuk berbenah diri. Sikap guru bukan lagi sebagai “diktator pendidikan” akan tetapi sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya proses kreatifitas dan inovasi pengetahuan yang dilaksanakan siswa. Siswa memegang peranan utama (siswa aktif), sedangkan guru sebagai peran pendamping (guru pasif) dalam proses belajar mengajar. Interaksi timbal balik antara guru dan murid dengan model seperti ini akan menumbuhkan rasa percaya diri siswa untuk mengeluarkan segala pengetahuan yang siswa miliki dalam dialektika pengetahuan.

Peranan pendidik sebagai fasilitator akan memberikan keluasan murid untuk berekspresi dan menampilkan potensi yang murid miliki. Potensi murid adalah kecerdasan, jika kecerdasan dibelenggu maka yang terlahir dari proses pendidikan adalah murid yang “prematur” dalam berfikir, akibat dari arogansi pendidik dalam memonopoli proses pembelajaran. Sikap arogansi seorang  pendidik akan berdampak negatif terhadap perkembangan kecerdasan siswa, apalagi di masa sekolah, siswa sedang mengalami pertumbuhan kecerdasan.

2. Keteladanan Pendidik dan Murid

Di dalam proses belajar, kebiasaan meliputi pengurangan perilaku yang tak diperlukan, karena proses penyusutan pengurangan inilah muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis. (Muhibbin Syah, Psikologi Belajar; 2002).

Keteladanan merupakan bagian dari kebiasaan dalam proses belajar mengajar, kebiasaan atau sesuatu yang dilakukan berulang-ulang dalam tingkah laku sehari-hari di lingkungan belajar akan memunculkan sikap belajar yang efektif dan efisien. Misalnya seorang guru membiasakan diri membaca maka, kebiasaan baik ini akan diikuti oleh murid.

Keteladanan seorang pendidik mempunyai pengaruh kepada murid dan menjadi sumber inspirasi bagi murid dalam melangkah. Pendidik atau guru dijadikan sebagai publik figur oleh murid, sehingga bisa dikatakan guru adalah artis di sekolah yang menjadi pusat perhatian dari siswanya. Siswa akan memperhatikan segala bentuk perilaku yang guru lakukan baik itu saat berada di sekolah maupun setelah keluar dari sekolah. Artinya bahwa, keteladanan seorang guru tidak saja ditampilkan di sekolah tetapi ditampilkan juga di masyarakat. Jika guru melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan norma yang berlaku maka, murid mulai apatis terhadapnya, namun jika sebaliknya maka murid akan berlaku simpati terhadap guru tersebut.

Inilah kondisi yang terjadi dalam dunia pendidikan, dimana guru sebagai teladan sedangkan murid meneladani. Bagaimana kalau kedua pelaku pendidikan yaitu guru dan murid sama-sama menjadi orang yang diteladani dan yang meneladani. Di sini guru bukan saja menjadi publik figur tetapi murid juga dijadikan sebagai publik figur oleh guru. Karena pada saat tertentu apa yang dilakukan siswa bisa menjadi inspirasi bagi guru dalam mengajar.

Proses belajar mengajar di kelas sebenarnya bukan proses untuk mencerdaskan siswa semata, tetapi proses tersebut juga untuk mencerdasakan guru. Guru mengajarkan murid apa yang dia ketahui, murid mengajarkan guru apa yang murid ketahui, karena pada dasarnya apa yang diketahui oleh murid belum tentu diketahui oleh guru begitu pula sebaliknya. Guru dan murid sama-sama belajar sehingga adanya interaksi pengetahuan yang memberikan kebebasan kepada keduanya untuk saling bertukar ilmu pengetahuan.

Sikap saling menerima antara pendidik dan murid menjadikan suasana belajar lebih efektif, karena pola belajar yang dicanakan adalah pola diskusi aktif antara murid dan guru atau antara sesama murid. Untuk itu pencerdasan dengan sistem mebebaskan setiap individu dalam belajar akan melahirkan siswa yang seutuhnya sebagaimana cita-cita pendidikan nasional.

3. Pendidik dan Peserta didik sebagai Motivator

Keberhasilan proses belajar mengajar dipengruhi oleh berbagai macam faktor, baik itu faktor internal maupun faktor eksternal. Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar mengajar, maka motivasi bisa didatangkan dari dalam diri sendiri atau dari orang lain. Motivasi akan mensugesti pemikiran pelaku pendidikan untuk belajar dan mengajar lebih giat, sehingga pencapaian hasil belajar mengajar lebih baik.

Greenberg menyebutkan bahwa motivasi adalah proses membangkitkan, mengarahkan dan memantapkan perilaku arah suatu tujuan. Sedangkan menurut Haji Jaali motivasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (kebutuhan), (Haji DJaali, Psikologi Pendidikan; 2011). Dari kedua pengertian motivasi di atas maka dapat dijadikan sebagai analogi awal untuk menginterpertasikan motivasi dalam belajar mengajar.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Greenberg dan Haji Jaali tentang pengertian motivasi maka, untuk membangkitkan motivasi dari dalam diri dilakukan dengan memikirkan tujuan yang dicapai setelah proses belajar mengajar. Tujuan inilah yang menjadi motivasi yang berasal dari dalam diri. Motivasi bisa didapat dengan membuat pertanyaan-pertanyaan seperti, untuk apa kita belajar?, untuk apa kita mengajar?. Pertnyaan-pertanyaan ini akan dijawab sendiri dan jawabannya berkisar pada tujuan belajar dan mengajar itu sendiri. Pada hakekatnya tujuan belajar mengajar adalah memanusiakan manusia.

Motivasi belajar mengajar bukan saja bisa didapatkan dari dalam diri, akan tetapi hal ini bisa didapatkan dari luar pula. Motivasi yang di dapat dari faktor eksternal biasanya dengan melihat kondisi lingkungan sekitar. Contohnya, seorang murid melihat murid lainnya lebih cerdas dari dirinya, maka ia akan jadikan itu sebagai motivasi untuk belajar agar bisa sama dengan murid yang telah memotivasinya atau bahkan lebih lagi. Motivasi belajar murid bisa didapat dari guru, guru akan memperlihatkan kehebatannya dalam mengajar (bukan bermaksud sombong) maka murid akan melihat hal tersebut sehingga mereka akan giat belajar dengan tujuan agar bisa mempunyai kecerdasan yang sama dengan gurunya.

Murid sebagai motivator bagi guru, ini hal yang belum lumrah dalam dunia pendidikan, karena yang selalu dipahami bahwa guru itu adalah sumber segalanya dalam proses pendidikan. Untuk itu sudah saatnya untuk merubah paradigma lama ini dengan pradigma yang baru, yaitu murid juga mempunyai sikap tersendiri yang dapat menjadi motivasi bagi guru. Misalnya, jika dalam ruang kelas semua murid rajin masuk untuk belajar, maka akan memotivasi guru untuk mengajar lebih giat dan lebih baik. Saling memotifasi antara guru dan murid seperti inilah yang akan melahirkan saling memahami dan saling menghargai antara guru dan murid.

C. Penutup

Sikap seorang guru adalah menghargai muridnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, begitupula sebaliknya, murid menghargai guru dalam proses belajar mengajar, agar keduanya bisa saling memahami. Keadaan seperti inilah yang menjadikan proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien, sehingga cita-cita pendidikan akan tercapai dengan baik.

Demikianlah penulisan artikel ini semoga menjadi refensi bagi kita semua dalam menata pendidikan di Indonesia.
Dimanapun Bisa Menjadi Sekolah, Siapapun Bisa Menjadi Guru

Posting Komentar untuk "Membaca Pemikiran Pendidikan Paulo Freire"